Kisah Juru Kunci Makam Naik Haji dari Sumber Uang yang Tak Diduga-duga

Supaat adalah juru kunci makam yang tinggal di Desa Pohgurih, Kecamatan Puri, Mojokerto.

Editor: Mona Kriesdinar
Surya / Nuraini Faiq
Supaat (71) juru kunci makam yang tinggal di Desa Pohgurih, Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto 

TRIBUNJOGJA.COM, SURABAYA - Supaat (71) bertutur ramah saat ditemui petugas Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Embarkasi Surabaya di Asrama Haji Sukolilo.

Meski usianya sudah sepuh, namun semangat dan niatnya untuk berhaji menjadikan energi sang Kakek seolah muda lagi.

Baca: Tunggu 7 Tahun untuk Naik Haji, Nenek 84 Tahun dari Bantul Ini Tak Bisa Sembunyikan Kebahagiaannya

Supaat adalah juru kunci makam yang tinggal di Desa Pohgurih, Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto.

Setiap hari dia bertugas dan bekerja menjaga dan membersihkan makam kampung itu.

Dia juga membantu mengerahkan warga yang hendak ziarah leluhurnya. Demikian yang dikakukan Supaat setiap hari.

Baca: 14 Tahun Nabung di Celengan Bambu, Pasutri Penjual Es Tebu Akhirnya Bisa Naik Haji

"Kalau makam sudah bersih dan tidak ada yang ziarah saya juga cari kembang Kamboja," tutur sang kakek mengembangkan senyumnya.

Dengan ikhlas dia menekuni pekerjaan mulianya itu. Meski pendapatannya tak menentu namun kegemarannya menabung membuat Suapaat bisa naik haji.

Baca: Doa Minta Rezeki Halal di Setiap Sujud Antarkan Tukang Becak Berpenghasilan Rp20 Ribu Naik Haji

Senin (13/8/2018) menjelang subuh tadi sang kakek tiba di Tanah Suci.

Sekitar pukul 20.00 tadi malam, Supaat bertolak terbang dari Bandara Juanda ke Mekkah bersama Kloter 77 (Mojokerto).

Untuk kali pertama kakek tiga cucu itu naik pesawat.

"Kalau pipis bagaimana di pesawat," ucap Supaat sebelum berangkat.

Dibutuhkan waktu tujuh tahun untuk konsisten tiada henti menabung sehingga Supaat bisa diizinkan menunaikan rukun Islam kelima naik haji.

Dia selalu menyisihkan pendapatannya yang tak seberapa untuk ditabung.

Dalam tradisi di kampungnya sebagai juru kunci , Supaat mendapat tanah sawah ganjaran atau bengkok yang tak luas.

Dari tanah ini dia bisa hidup. Selain berharap uang kaleng peziarah makam atau infaq pengunjung makam.

Jika dihitung rata-rata sebulan bisa mendapatkan Rp 230.000.

Nilai yang tak seberapa. Supaat masih ingat krentek hatinya berniat ibadah pada sembilan belas tahun lalu atau pada 1999. Dalam hatinya ada keinginan naik haji.

Niat itu terus disimpan untuk dirinya sendiri.

Keinginannya itu tak pernah diucapkan dan tidak diberitahukan pada siapa pun.

Dari menyisihkan sebulan Rp 100.000 dan Sesempatnya hingga 2007, uang Supaat terkumpul Rp 9,6 juta.

Uang tersebut lantas ia titipkan di salah satu pemilik KBIH di desanya.

Setiap kali terkumpul uang yang agak banyak, sang kakek nenyetorkan uang tersebut pada pemilik KBIH.

"Saya tak menyangka dengan keberadaan kembang Kamboja. Setiap hari saya keringkan pernah harganya di luar dugaan saya. Rp 115.000 per kg sekitar dua tahun lalu. Saya genjot nyari Kamboja saya jemur," tutur Supaat.

Bunga-bunga itu memang biasa dikeringkan dan dijual kepada pengepul.

Bunga kering Kamboja ini biasa untuk dijadikan salah satu bahan kosmetik.

Dia makin semangat dan gigih memungut bunga ini.

Sang kakek terus bekerja keras di makam dan mengumpulkan bunga itu.

"Maha besar Allah. Saya ditolong bunga Kamboja sehingga terkumpul uang untuk melunasi biaya haji. Karena mahal, seminggu pernah mencari bunga ini sampai 53 kg. Saya dibantu cucu saya mengumpulkannya," kata Supaat yang lama ditinggal istrinya.

Bunga Kamboja itu menjadi berarti bagi sang kakek. Sebab harga bunga kering Kamboja biasanya hanya Rp 4.000 per kg.

Supaat menuturkan, ia tak pernah menghitung jumlah setoran untuk haji yang ia titipkan pada pemilik KBIH.

Dia makin senang setalah mengetahui ternyata setorannya ke KBIH untuk melunasi biaya haji masih lebih Rp 5 juta.

Uang ini yang nanti untuk syukuran saat pulang dari tanah suci menjadi haji. Semoga menjadi hadi mabrur Kek!

Sumber: Surya
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved