Yogyakarta

Butuh Rp 450 Miliar untuk Perpanjang Breakwater di Pelabuhan Tanjung Adikarta

Pemda DIY berkomitmen penuh untuk menyelesaikan proyek yang sudah dimulai sejak 2005 itu.

Butuh Rp 450 Miliar untuk Perpanjang Breakwater di Pelabuhan Tanjung Adikarta
tribunjogja/hamim thohari
Foto udara pelabuhan perikanan Tanjung Adikarto, Karangwuni, Wates, Kulonprogo. Pelabuhan yang mulai dibangun 2004 ini belum bisa difungsikan sesuai tujuan pembangunan karena gelombang besar dan sedimentasi. 

TRIBUNJOGJA.COM - Kurang panjangnya breakwater, atau  alat pemecah ombak, menjadi masalah utama yang menyebabkan Pelabuhan Tanjung Adikarta, di Kulonprogo urung beroperasi.

Padahal, biaya yang dibutuhkan untuk itu diakui sangat tinggi.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan DIY, Bayu Mukti Sangsoko, mengatakan bahwa pihaknya berkomitmen penuh untuk menyelesaikan proyek yang sudah dimulai sejak 2005 itu.

Baca: Susi Pudjiastuti : Sudah Saatnya Kita Punya Pelabuhan di Selatan Jawa

Ia pun memastikan, untuk fasilitas darat, hampir semua telah terselesaikan.

"Seperti dermaga, kolam, lalu tempat pelelangan ikan, sudah siap semua, sekitar 90 persen lah. Tapi, yang bangun breakwater itu kan dari (Kementerian) PUPR, kita dari daerah hanya fokus ke pelabuhannya, fasilitas daratnya," katanya .

Dari informasi yang dihimpun Tribunjogja.com, kurang panjangnya breakwater, sedikit banyak turut menyebabkan sedimentasi di sekitar kolam pelabuhan.

Akibatnya, kapal tidak bisa masuk, karena kedalaman muara sungai yang terlalu dangkal.

Oleh sebab itu, perpanjangan breakwater dianggap mendesak.

Bayu mengungkapkan, sejauh ini, breakwater yang sudah tersedia baru sepanjang lebih kurang 100 meter, dibangun oleh Kementerian PUPR.

Padahal, untuk meredam ombak di kawasan setempat, idealnya butuh breakwater dengan panjang sekitar 200 meter.

Halaman
12
Penulis: aka
Editor: Gaya Lufityanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved