Jawa

Tunjang Pengembangan Ekonomi Kreatif, Komisi X DPR Targetkan RUU Ekonomi Kreatif Selesai Tahun ini

Komisi X DPR RI mengebut pembahasan Rancangan Undang Undang (RUU) Ekonomi Kreatif.

Tunjang Pengembangan Ekonomi Kreatif, Komisi X DPR Targetkan RUU Ekonomi Kreatif Selesai Tahun ini
TRIBUNJOGJA.COM / Rendika Ferri
Anggota Komisi X DPR RI Bambang Sutrisno; Deputi Infrastruktur Bekraf, Hari Santoso Sukari, beserta pelaku industri ekonomi kreatif berfoto bersama usai acara Bekraf Digital Enterpreunership di Hotel Puri Asri, Kofa Magelang, Rabu (18/7/2018). 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Rendika Ferri K

TRIBUNJOGJA.COM, MAGELANG - Komisi X DPR RI mengebut pembahasan Rancangan Undang Undang (RUU) Ekonomi Kreatif.

Keberadaan RUU Ekonomi Kreatif ini dinilai sudah sangat dibutuhkan, untuk menjadi payung hukum industri ekonomi kreatif di Indonesia, sehingga industri ini dapat terus berkembang.

Seperti yang dikatakan oleh Anggota Komisi X DPR RI, Bambang Sutrisno.

Baca: KPU Kota Magelang Temukan Banyak Administrasi Caleg Kurang Lengkap

Dirinya mengatakan pentingnya RUU Ekonomi Kreatif untuk segera diundangkan.

Pasalnya, UU ini akan menjadi payung hukum bagi industri ekonomi kreatif sehingga dapat terlindungi.

Selain itu, pengembangan industri ekonomi kreatif ini juga dapat dikembangkan secara maksimal.

Sebagaimana industri tersebut telah menyumbangkan nilai pemasukan yang besar kepada negara melalui APBN.

"UU inimenjadi suatu kebutuhan karena ternyata ekonomi kreatif ini sudah bisa mempengaruhi nilai pemasukan APBN. Jadi perlu adanya payung hukum tersebut sehingga pengembangannya dapat maksimal," ujar Bambang pada Tribunjogja.com saat acara Workshop Bekraf Digital Enterpreneurship di Hotel Puri Asri Kota Magelang, Rabu (18/7/2018).

Bambang mengatakan, melalui regulasi tersebut pengembangan industri ekonomi kreatif dapat dimaksimalkan, khususnya dalam bidang anggaran.

Baca: Langgar Kawasan Tertib Lalulintas di Kota Magelang, Petugas Angkut Tiga Sepeda Motor

Saat ini lembaga yang menangani ekonomi kreatif, yakni Badan Ekonomi Kreatif Indonesia (Bekraf) masih terganjal masalah anggaran.

Hal ini dikarenakan pembentukan badan tersebut didasari Peraturan Presiden, sehingga dukungan anggarannya masih lemah.

Melalui UU Ekononi Kreatif, Bekraf bisa dijadikan setara Kementerian atau dibawahnya, agar dukungan anggaran tercukupi, siapa saja yang akan terlibat.

Badan pun dapat dikawal dan diawasi, sehingga hasil dari sektor tersebut juga jelas.

"Ada UU nya yang mengatur, bagaimana rupa industri ekonomi kreatif ini, siapa saja yang terlibat. Di Korea sendiri sudah ada jadi kementerian. Sehingga Bekraf juga kami dorong agar dapat dijadikan setara Kementerian dua tiga tahun ke depan. Indonesia ini sangat luas, jadi kalau dipegang badan saja, orangnya hanya sedikit, anggaran juga didorong agar hasilnya dapat maksimal," kata Bambang.

Bambang menambahkan, dari situ, nantinya 16 sektor industri ekonomi kreatif bisa dikembangkan secara keseluruhan.

Saat ini baru bidang kuliner, fashion sampai kerajinan yang sudah berkembang.

Sementara industri lain seperti desain, musik, film masih perlu diurus.

Saat ini pembahasan RUU Ekonomi Kreatif sudah akan memasuki tahap pembahasan.

Komisi X DPR RI juga telah memanggil Kementerian terkait bahan pembahasan RUU Ekonomi Kreatif.

DPR pun menargetkan, RUU Ekonomi Kreatif disahkan pada tahun 2018 ini.

Baca: Pemilu 2019, Tujuh Parpol di Magelang Sudah Mendaftarkan Calegnya, Sembilan Menyusul

"Dewan juga sudah melakukan studi banding ke berbagai negara, seperti di Inggris, Korea, Jepang, Singapura, sehingga pengembangan industri ekonomi kreatif di sana dapat ditiru dan diaplikasikan di Indonesia," ujar Bambang.

Sementara itu Deputi Infrastruktur Bekraf, Hari Santoso Sukari, mengatakan, Indonesia memiliki potensi industri ekonomi kreatif yang sangat besar, sehingga perlu untuk dikembangkan.

Sehingga nantinya Indonsia tak hanya menjadi konsumen saja, tetapi menjadi produsen.

"Indonesia akan menjadi negara digital ekonomi. Jadi kita harus siap, bukan hanya nenjadi komsumen tapi juga menjadi produsen," kata Hari.

Hari mengatakan banyak industri ekonomi kreatif yang bisa dikembangkan.

Seperti di bidang fashion yang cukup menguntungkan.

Melalui e-commerce dengan biaya sedikit, setiap warga pun dapat membangun bisnis fashion secara digital.

"Fashion berpeluang besar warga, terutama pemula utk berbisnis digital. Apalagi saat ini sudah ada e-commerce. Tetapi di bidang Fashion ini, desain harus diperhatikan, segmentasi tidak dikesampingkan. Seperti penggunaan hijab yang bisa dibuat warna warni. Kemasan juga jangan dikesampingkan karena akan menunjang penjualan," kata Hari.

Baca: Dampak Kekeringan Merambah ke Lima Wilayah di Kabupaten Magelang

Sementara itu pelaku industri ekonomi kreatif di bidang kuliner, Zaenal Rofiq, mengatakan, pihaknya mendukung disusunnya RUU Ekonomi Kreatif termasuk pembentukan Bekraf menjadi setara Kementerian.

Hal ini agar dukungan terhadap pelaku industri ekonomi kreatif dapat maksimal, terutama bidang permodalan.

"Sangat setuju, hal ini dibutuhkan agar ada kemudahan permodalan bagi pelaku industri kreatif. Pasalnya, selama ini kita mencari modal yang ada di Perbankan dinilai masih sulit. Sehingga jika Bekraf dibentuk kementerian, UU disahkan, anggaran bsia lebih besar. Dukungan kepada kami juga dapat maksimal," kata Zaenal.(*)

Penulis: rfk
Editor: Gaya Lufityanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved