Sains
Danau Kelimutu di Flores NTT Sering Berubah Warna, Ternyata Begini Penjelasan Ilmiahnya
Danau ini terletak di puncak gunung api Kelimutu, yang terakhir kali meletus pada tahun 1968.
Penulis: say | Editor: Muhammad Fatoni
TRIBUNJOGJA.COM - Nama danau Kelimutu di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), sudah mendunia sejak puluhan tahun lalu.
Danau ini terletak di puncak gunung api Kelimutu, yang terakhir kali meletus pada tahun 1968.
Terdapat tiga danau di puncak gunung tersebut.
Paling barat terdapat danau Tiwu Ata Mbupu (berarti Danau Orang Tua), biasanya berwarna biru.
Kemudian danau Tiwu Nuwa Muri Koo Fai (Danau Pria dan Wanita Muda), biasanya berwarna biru kehijauan.
Danau yang berada di tenggara disebut Tiwu Ata Polo (dipercaya sebagai tempat bagi yang jahat dalam hidup), biasanya berwarna merah atau coklat.
Tiga danau tersebut sering kali berubah warna dalam jangka waktu yang tak dapat ditentukan.
Berdasarkan data Balai Taman Nasional Kelimutu seperti dilansir Pos Kupang, selama 1915-2011, Ata Polo mengalami 44 kali perubahan warna, Nua Muri Koo Fai berubah warna 25 kali, dan Ata Mbupu 16 kali bersalin warna.
Sedangkan menurut catatan Earth Observatory NASA, danau Tiwu Ata Polo berubah warna empat kali di tahun 2016.
Warna dari danau tersebut dapat berubah dari putih, hijau, biru, merah, coklat, atau hitam.
Bila mitos yang berkembang mengaitkannya dengan tempat para ruh, maka dari segi ilmiah, perubahan warna tiga danau itu dapat dijelaskan secara akal sehat.
Menurut NASA, perubahan warna danau Kelimutu dapat dipengaruhi oleh spesies bakteri.
Fumarol atau ventilasi vulkanik yang melepaskan uap dan gas seperti sulfur dioksida, juga mempengaruhi perubahan warna tersebut.
Fumarol menghasilkan upwelling di danau, yakni fenomena di mana air yang lebih dingin dan bermassa jenis lebih besar naik dari dasar laut ke permukaan akibat pergerakan angin di atasnya, sehingga lebih padat, serta air kaya mineral dari bawah dibawa ke permukaan.
Tiga danau di Kelimutu juga mengandung konsentrasi seng dan timbal yang relatif tinggi.
Faktor kunci lain dalam pewarnaan adalah jumlah oksigen yang ada dalam air.
Seperti darah manusia, air di danau itu tampak lebih biru (atau lebih hijau) ketika rendah oksigen.
Namun saat kaya oksigen, mereka tampak merah darah atau bahkan cola hitam. (*)