Bisnis

Dorong Database Pelaku Ekraf, Bekraf Gelar Bigger di Yogyakarta

Bekraf menggelar Bisma Goes to Get Member (Bigger) yang dihadiri oleh ratusan para pelaku ekraf dari berbagai subsektor di DIY.

Editor: Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM / Yosef Leon
Direktur Riset dan Pengembangan Bekraf, Josua Puji Mulia (tengah) didampingi oleh Direktur Riset dan Pengembangan Bekraf, Wawan Rusiawan (kiri) dan Direktur Harmonisasi Regulasi dan Standardisasi Bekraf, Sabartua Tampubolon saat jumpa pers mengenai event Bigger yang diadakan di Hotel Royal Ambarukmo, Selasa (10/7/2018) 

Laporan Calon Reporter Tribun Jogja, Yosef Leon Pinsker

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Guna semakin mengintegrasikan para pelaku ekonomi kreatif (ekraf) kedalam satu database terpantau, Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) menggelar event Bisma Goes to Get Member (Bigger) yang dihadiri oleh ratusan para pelaku ekraf dari berbagai subsektor yang berada di DI Yogyakarta, Selasa (10/7/2018), bertempat di Royal Ambarukmo Hotel.

Bekraf Information System in Mobile Apllication (Bisma) merupakan platform bagi pelaku ekraf untuk mendaftarkan diri ke dalam database resmi Bekraf, melalui aplikasi yang bertujuan untuk memudahkan pemerintah dalam menangkap permasalahan, memonitor perkembangan usaha, serta menciptakan ekosistem ekraf yang kondusif.

Baca: Libatkan Ratusan Pedagang, Pasar Kangen Diharap Mampu Menggeliatkan Perekonomian

Deputi Pemasaran Bekraf, Josua Puji Mulia menuturkan, kegiatan ini juga sekaligus bertujuan untuk memperluas akses pasar dari para pelaku ekraf.

Sehingga, dengan demikian akan diikuti pula dengan tumbuh kembangnya usaha.

"Misalnya ketika ada pameran fesyen di luar negeri, jadi kami perlu tahu siapa saja para pelaku fesyen. Nah dengan adanya database ini, kami bisa mendapatkan informasi yang tepat dan akurat dan juga pastinya pemilihan peserta menjadi semakin akurat sehingga target yang tercapai bisa lebih baik lagi," paparnya pada Tribunjogja.com.

Selain itu, terangnya, para pelaku ekraf juga kerap kali ketinggalan informasi ketika Bekraf mengadakan berbagai kegiatan, semisal dukungan, pameran, dan lainnya.

"Inilah salah satu fungsi Bisma tersebut, kami akan menggunakan Bisma ini sebagai platform untuk diseminasi informasi. Bukan hanya di pemasaran, tapi mungkin juga nanti di bagian Deputi HAKI dan yang lainnya," imbuhnya.

Direktur Riset dan Pengembangan Bekraf, Wawan Rusiawan mengatakan, ada beberapa hal yang mesti dilengkapi oleh palaku ekraf agar bisa mendaftarkan diri ke Bisma.

Persyaratannya, Bekraf mempertimbangkan ekraf lewat omzet perbulannya, kemudian sisi pemasaran yang telah lewat daring, jumlah pekerja, "kemudian apakah sudah pernah melakukan pelatihan-pelatihan? Nanti kan semua terekam di dalam Bisma, sehingga kita juga bisa  memperbaiki pola-pola pelatihan kita agar sesuai dengan levelnya," tukasnya.

Sementara itu, Direktur Harmonisasi Regulasi dan Standardisasi Bekraf, Sabartua Tampubolon menyoroti tentang minimnya pelaku ekraf yang mendaftarkan Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) dari brand produk atau karyanya.

Baca: Harga Telur Naik, Ternyata Ini Penyebabnya

Menurutnya, HAKI menjadi hal dasar ataupun jantung yang penting bagi pelaku ekraf untuk pengembangan kreatifitas mereka.

Menurut statistik yang dikeluarkan oleh BPS, seperti yang diucapkan Sabar, pada 2016 lalu, hanya ada 11 persen dari produk kreatif yang dilindungi oleh HAKI, sementara 89 persen lainnya nihil perlindungan.

"Kita sudah mendapat jawabannya, bahwa kesadaran untuk mendaftarkan HAKI dikalangan pelaku ekraf itu masih kecil, kenapa? Karena memang informasinya itu terbatas. Maka dari itu, kita sudah mengadakan informasi umum HAKI lewat Bekraf IPR Information in Mobile Application (BIIMA)," jelasnya.

Hingga saat ini, Bekraf mencatat telah ada sekitar 16 ribu pelaku ekraf yang telah mendaftarkan diri kedalam database Bisma.

Untuk DIY, sesuai rilis yang diterima, total ada 172.230 pelaku ekraf yaitu masing-masing berupa kuliner sebanyak 105.568 usaha, 35.832 usaha kriya, fesyen dengan 22.500 usaha, kemudian penerbitan yang mencapai 3.105 usaha, dan fotografi sebanyak 1.152 usaha. (Tribunjogja.com)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved