Kota Yogyakarta

Pendidikan Politik Diharapkan Terjadi di Lingkup Keluarga

Berhubung sasaran kerja Pantarlih hanya 300 pemilih, maka sebetulnya dalam waktu 13 hari, pantarlih sudah dapat mengedukasi 300 pemilih.

Pendidikan Politik Diharapkan Terjadi di Lingkup Keluarga
TRIBUNJOGJA.COM / Kurniatul Hidayah
Ketua Panwaslu Kota Yogyakarta Iwan Ferdian saat menyampaikan penjelasan mengenai pendidikan politik di Balaikota Yogyakarta, Selasa (3/7/2018). 

Laporan Reporter Tribun Jogja Kurniatul Hidayah

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Komisioner KPU Kota Yogyakarta R Moeh Aris Munandar menjelaskan bahwa Petugas Pemutakhiran Data Pemilih (pantarlih) dan Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) mendapatkan tugas tambahan untuk melakukan sosialisasi dan pendidikan pemilih berbasis keluarga.

Sesuai regulasi, lanjutnya, pantarlih diberi waktu 30 hari untuk melakukan coklit terhadap 300 pemilih. Pantarlih diasumsikan bekerja dalam sehari 6 jam atau 360 menit, maka jumlah keluarga yang dapat dijangkau dalam sehari adalah 6 keluarga.

"Dalam sebuah keluarga diperkirakan ada 4 orang pemilih, suami dan istri serta dua anak. Dengan demikian, dalam satu hari pantarlih melakukan sosialisasi dan pendidikan pemilih kepada 24 orang," ungkapnya dalam Diskusi Pendidikan Politik Masyarakat Kota Yogyakarta di Kompleks Balaikota Yogyakarta, Selasa (3/7/2018).

Baca: Warga Diminta Aktif Melapor Bila Ada Pelanggaran atau Kecurangan

Ia menambahkan, berhubung sasaran kerja Pantarlih hanya 300 pemilih, maka sebetulnya dalam waktu 13 hari, pantarlih sudah dapat mengedukasi 300 pemilih.

"Alokasi waktu yang tersisa selama 17 hari dapat digunakan untuk memperkuat pemahaman keluarga yang dalam penilaian pantarlih masih lemah dan perlu pengayaan pengetahuan," ucapnya.

Selain itu, Aris menuturkan bahwa bentuk kegiatan sosialisasi dan pendidikan pemilih berbasis keluarga berupa dialog dan simulasi.

Simulasi difokuskan pada jumlah dan jenis surat yang akan diterima pemilih, cara membuka surat suara, cara mencoblos, cara melipat kembali surat suara yang sudah dicoblos, dan dimasukan ke kotak suara sesuai dengan jenis pemilihan.

"Tokoh masyarakat juga dapat memberikan peranan dalam Pemilu ini, di antaranya menyebarkan informasi publik tentang pemilu, menyampaikan pikirannya, ikut dalam proses penyusunan kebijakan atau peraturan KPU terkait Pemilu, dan seterusnya," urainya.(TRIBUNJOGJA.COM)

Penulis: kur
Editor: Ari Nugroho
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved