DIY

Sultan Ajak Masyarakat Tetap Mengenang Peristiwa 'Jogja Kembali'

Peristiwa 'Jogja Kembali' sendiri adalah bagian dari sejarah Indonesia sejak Proklamasi 17 Agustus 1945.

Sultan Ajak Masyarakat Tetap Mengenang Peristiwa 'Jogja Kembali'
Tribun Jogja/ Kurniatul Hidayah
Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X saat menghadiri acara Syawalan di Halaman Balaikota Yogyakarta, Jumat (29/6/2018). 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - 69  tahun yang lalu, tepatnya pada hari ini, (29/8/2018) terjadi peristiwa bersejarah “Jogja Kembali".

Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X mengajak masyarakat untuk tetap mengenang peristiwa bersejarah yang terjadi pada 29 Juni 1949 di Yogyakarta tersebut.

"Serangan Umum 1 Maret 1949 mengisyaratkan Republik Indonesia de facto masih eksis, dan Proklamasi kedua menyatakan Republik Indonesia de jure tetap berdaulat.

Sehingga kedaulatan RI secara de facto dan de jure, lewat Proklamasi Kedua ini dirancang agar memperoleh pengakuan dunia internasional,” urai Sri Sultan saat menghadiri acara Syawalan Gubernur dan Wakil Gubernur DIY di Grha Pandawa Balai Kota.

Peristiwa 'Jogja Kembali' sendiri adalah bagian dari sejarah Indonesia sejak Proklamasi 17 Agustus 1945. 

Baca: Tata Wajah Ibukota, Haryadi Minta Dukungan Danais ke Sultan

Keputusan Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan rakyat Yogyakarta kala itu untuk bergabung dengan NKRI dapat dibuktikan dengan Amanat 5 September 1945 dan juga komitmennya disiarkan oleh RRI pada 1 Juli 1949 dalam dokumen yang ditandatanganinya pada 30 Juni 1949.

Lebih lanjut, Gubernur DIY juga menjelaskan beberapa hal terkait peristiwa penting yang terjadi pada saat itu. 

“Waktu itu, Presiden ditahan di Bangka, Kepala PDRI berada pada Mr. Syafruddin Prawiranegara yang berpindah-pindah di daerah Sumatera Barat, dan Proklamasi diucapkan oleh Sri Sultan HB IX di Yogyakarta, ini menunjukkan kelapangan dada dan kebesaran hati para Pendahulu kita," imbuh Gubernur.

Sri Sultan Hamengku Buwono X merasa sejarah selalu penting untuk dikenang, agar di kemudian hari kita tidak kehilangan sejarah yang dimiliki saat ini dan dapat dijadikan sebagai pengikat pemersatu bangsa.(TRIBUNJOGJA.COM)

Penulis: Rizki Halim
Editor: Ari Nugroho
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved