DIY

Malam Tirakatan 'DJogja Kembali' Digelar di Pendapa Wiyatapraja Kepatihan Yogyakarta

Acara ini sebagai peringatan sejarah DJogja kembali yang dinilai sangat penting dalam tonggak perjalanan dan perjuangan bangsa Indonesia.

Malam Tirakatan 'DJogja Kembali' Digelar di Pendapa Wiyatapraja Kepatihan Yogyakarta
IST
Malam Tirakatan DJogja Kembali di Pendapa Wiyatapraja Kepatihan Yogyakarta, Jumat (29/6/2018) 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Ahmad Syarifudin

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Dewan Pendidikan DIY, Dewan Kebudayaan DIY, berkolabirasi dengan Kawulo DJogja Istimewa dan Koseta Daerah Istimewa Yogyakarta menggelar malam tirakatan "DJogja Kembali" di Pendapa Wiyatapraja, Jumat (29/6/2018) malam.

Acara ini sebagai peringatan sejarah DJogja kembali yang dinilai sangat penting dalam tonggak perjalanan dan perjuangan bangsa Indonesia.

"Malam tirakatan Djogja kembali sangat penting karena ada dua kegiatan perjuangan saat itu, yakni perlawanan gerilya jenderal Sudirman dan Pak Karno, yang dilakukan secara diplomasi," ujar Ketua panitia, Sigit Sugito, Jumat (29/6/2018).

Baca: Sultan Ajak Masyarakat Tetap Mengenang Peristiwa Jogja Kembali

Menurutnya, peristiwa DJogja Kembali yang terjadi pada 29 Juni 1949 sangat erat kaitannya dengan mata rantai tonggak sejarah sebelum dan sesudahnya yaitu Proklamasi 17 Agustus 1945, amanat 5 september 1945, Yogyakarta ibukota Republik 4 Januari 1946 dan Serangan Oemoem 1 Maret 1949.

"DJogja Kembali menjadi peristiwa simbolik yang menandai berfungsinya kembali pemerintahan Republik Indonesia. Peristiwa ini juga menjadi satu pijakan bagi perjalanan Negara Kesatuan Republik Indonesia," ungkapnya.

Acara malam tirakatan DJogja Kembali dibuka langsung oleh Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Mangkubumi.

Dalam sambutanya, GKR Mangkubumi mengungkapkan rasa bangga dan terimakasih atas terselenggaranya peringatan sejarah DJogja Kembali.

Baca: GKR Mangkubumi Berharap Terjalin Kerjasama Berkelanjutan dengan Karang Taruna Jawa Barat

Menurut dia, kegiatan peringatan dalam peristiwa sejarah sangat penting sebagai upaya merawat ingatan supaya tidak terkikis.

"Negeri ini Nusantara, ada, karena adanya sejarah. Bagaimana peran penting para pahlawan dan raja yang dulu berjuang. Kita bisa berdiri kokoh disini, di bumi nusantara, karena ada peran sejarah kemudian peran penduduk bangsa Indonesia yang masih mengerti sejarah," ungkapnya.

Halaman
12
Penulis: Ahmad Syarifudin
Editor: Ari Nugroho
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved