Breaking News:

Feature

Kisah Jumiyati, Perempuan Difabel di Yogya yang Memilih Tetap Bekerja Keras dan Enggan Mengemis

Diantara deru bisingnya jalan raya pagi itu, ia terlihat jaket kuning, bertopi dan memegang setumpuk koran.

Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Muhammad Fatoni
Tribun Jogja/ Ahmad Syarifudin
Jumiyati, tengah menjajakan koran di trotoar kawasan simpang empat pojok Beteng Wetan Yogyakarta 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Ahmad Syarifudin

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Seorang perempuan tampak terduduk lemah di trotoar jalan di kawasan simpang empat Pojok Benteng Wetan Yogyakarta.

Diantara deru bisingnya jalan raya pagi itu, ia terlihat jaket kuning, bertopi dan memegang setumpuk koran.

Perempuan itu bernama Jumiyati (26), seorang loper koran yang tetap teguh dan yakin pada pilihan hidupnya sendiri, menjajakan koran dengan duduk diantara deru bising kendaraan dan tebalnya debu jalanan.

Baginya, hidup adalah tentang kehormatan diri, ia mengaku tak sudi jika hidup tak mandiri.

"Sepahit apapun hidup, tetap harus disyukuri. Meskipun saya kondisinya seperti ini, tapi saya masih merasakan kebahagiaan hidup," tuturnya, saat berbincang dengan Tribun Jogja.

Jumiyati merupakan seorang difabel.

Sebelah mata dan tangan sebelah kirinya tidak bisa berfungsi normal sebagaimana manusia lainnya.

Meski memiliki fisik kurang beruntung dibanding manusia lain, Umi, sapaan akrabnya, mengaku tak mau menggantungkan hidup dengan jalan meminta-minta.

"Saya sering diajak untuk mengemis dan mengamen, tapi saya tolak, karena saya bersyukur masih bisa bekerja. Hidup bagi saya adalah kehormatan diri," ujar Umi, penuh keyakinan.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved