Gula Semut

Gula Semut di Singapura Dijual 10 Kali Lipat, Hasto Merasa Dizalimi

Gula Semut di Singapura Dijual 10 Kali Lipat, Hasto Merasa Dizalimi Karena Petani Tidak Menikmati Hasilnya Secara Maksimal.

Penulis: Rizki Halim | Editor: Hari Susmayanti
net
Ilustrasi gula semut 

TRIBUNJOGJA.COM - Setiap harinya 9 ton gula semut organik produksi Kulonprogo diekspor ke berbagai negara.

Namun nyatanya, sang Bupati Kulonprogo, Hasto Wardoyo merasa hal tersebut tidak sepenuhnya menguntungkan masyarakatnya, dirinya justru merasa dizalimi.

Bukan tanpa alasan, hal tersebut diungkapkanya setelah menemukan fakta bahwa di Singapura, gula yang diproduksi oleh warganya tersebut dibanderol hingga harga Rp 200 ribu lebih.

Padahal harga jual yang dibanderol ketika produk gula tersebut diekspor hanya berkisar Rp 20 hingga 25 ribu per kilogram.

"Saya menemukan ketika di supermarket yang berada di Singapura, gula semut organik dijual Rp 200 ribu lebih, dan di kemasan ada tulisannya produksi Kulonprogo," cerita Hasto, Rabu (27/6/2018).

Karena itu, dirinya merasa ada permainan harga di tingkat tengkulak yang mengambil keuntungan sangat besar, sehingga mengakibatkan selisih harga yang sangat tinggi pada komoditi gula semut tersebut.

Baca: Truk Pasir Masih Membandel, Jalan Umum Desa Wukirsari Banyak yang Rusak

Oleh karena itu, saat ini pihaknya mengaku akan terus melakukan upaya untuk memfokuskan penjualan pada pasar lokal, ketimbang hanya diekspor pada pasar luar.

Terlebih lagi, gula semut produksi Kulonprogo saat ini juga sudah mendapatkan dua sertifikasi yaitu organik dan indikasi geografis, sehingga kualitasnya tidak diragukan lagi.

"Kami sedang mencari solusi bagaimana agar bahu membahu mencari pasar dalam negeri. Karena saya yakin, pasar dalam negeri tidak akan dikuasi oleh orang dari luar, karena tidak punya gula merah, berbeda dengan beras dan bawang merah, sehingga tidak akan ada saingan," imbuh Hasto.

Oleh karena itu, dirinya juga sudah merangkul beberapa pihak untuk dapat melebarkan sayap penjualan gula semut Kulonprogo, satu di antaranya dengan pengusaha perhotelan untuk dapat menyetok gula di beberapa hotel DIY.

Diharapkan gula semut asli Kulonprogo dapat merambah pasar lokal dengan signifikan.

Terlebih lagi sejumlah hampir 5000 petani selama ini dirangkul untuk memproduksi gula dengan Kecamatan Kokap menjadi tempat paling banyak memproduksi komoditi gula semut.

"Jangan terus, wah seneng ekspor banyak itu bagus, jangan gitu lah kalau menurut saya, kita itu harus ideologis sedikit berfikir yang agak fundamental gitu lho, tidak hanya pragmatis. Ini kan perang melawan kapitalis," ujar Hasto diikuti tertawa. (tribunjogja)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved