Lifestyle

Apakah Hubungan Intim Sebelum Bertanding Mempengaruhi Performa dalam Olahraga?

Sebuah studi mengungkapkan hubungan seks sebelum pertandingan justru meningkatkan kemampuan tubuh.

Apakah Hubungan Intim Sebelum Bertanding Mempengaruhi Performa dalam Olahraga?
ist
Ilustrasi 

TRIBUNJOGJA.COM - Di kalangan atlet, ada berbagai mitos seputar seks, salah satunya apakah boleh hubungan seks sebelum pertandingan olahraga.

Beberapa atlet seperti Mike Tyson dan Muhammad Ali berprinsip pantang berhubungan seks saat ingin bertanding.

Namun, sebaliknya bagi Ronda Rousey yang mengaku berhubungan seks sebanyak mungkin sebelum bertanding.

Lalu, siapa yang benar?

Dikutip dari Men’s Health, sebuah studi mengungkapkan hubungan seks sebelum pertandingan justru meningkatkan kemampuan tubuh.

Dalam studi tersebut, para peneliti meminta satu grup yang terdiri dari 12 pria untuk melakukan latihan sederhana pada tubuh bagian bawah saat pagi hari setelah berhubungan seks atau tidak sama sekali sebagai perbandingan.

"Desain malam sebelumnya ini untuk meniru kerangka waktu yang mungkin dialami beberapa atlet," kata Todd Astorino, rekan penulis studi dan seorang profesor kinesiologi di California State University, San Marcos.

Hasilnya, Astorino dan rekannya menemukan, seks tidak berpengaruh pada kemampuan pria untuk melakukan gerakan latihan beban.

Selama lima set dari dua latihan tubuh bagian bawah, baik kemampuan puncak dan rata-rata tetap stabil terlepas dari berhubungan seks atau tidak pada malam sebelumnya.

Meskipun penelitian ini diakui sangat kecil, peneliti mengklaim, data mereka menunjukkan seks tidak merusak kekuatan otot ketika dilakukan sebelum berolahraga.

Namun, ada peringatan pengaruh seks terhadap menang atau kalah atlet di kelas dunia sangatlah kecil, jadi belum bisa dikatakan memiliki pengaruh signifikan.

Baca: Indra Penciuman Berperan Penting dalam Hubungan Seksual

Penelitian lain yang juga mengulas masalah ini.

Menurut Astorino, ada studi yang mengungkap, kadar testosteron dapat berubah sebelum dan sesudah berhubungan seks, dan ini dapat mengubah hal-hal seperti suasana hati serta kinerja.

Satu studi tahun 2003 dari China, misalnya, menemukan kadar testosteron seorang pria tetap relatif stabil setelah ejakulasi.

Namun, jika dia bisa bertahan tidak berhubungan seks selama seminggu penuh, kadar testosteronnya bisa melompat hampir 45 persen pada hari ketujuh.

Sementara itu, penelitian serupa tidak menemukan lompatan kadar testosteron di antara orang-orang yang abstain, sebaliknya justru ditemukan testosteron cenderung sedikit meningkat setelah berhubungan seks.

Setiap olahraga memiliki efek berbeda.

Tinjauan komprehensif pada tahun 2016 dari semua penelitian yang ada tentang seks dan kinerja atletik menemukan banyak data yang saling bertentangan dan kurangnya bukti kinerja secara umum dalam konteks berbagai jenis kompetisi.

"Mengingat berbagai olahraga, serta perbedaan metabolisme dan situasional yang berbeda, tidak mungkin bisa digeneralisasi,” ungkap penulis ulasan tersebut.

Jadi, tidak ada satu standar.

Lakukan apapun yang kamu mau karena tidak masalah apakah seorang atlet berhubungan seks sebelum kompetisi.

Dengan catatan bukan hubungan seks yang benar-benar menguras tenaga sebelum pertandingan.

Jadi jika merasa seks membuat rileks dan membantu fokus selama kompetisi, jangan sungkan untuk melakukannya.

Begitu juga jika kamu berpikir pantang berhubungan seks cukup membantu tetap agresif, tak masalah.

Sebab, hingga kini belum ada cukup bukti untuk keduanya.(TRIBUNJOGJA.COM)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Benarkah Perlu Pantang Seks Sebelum Pertandingan Olahraga?", https://lifestyle.kompas.com/read/2018/06/20/130000720/benarkah-perlu-pantang-seks-sebelum-pertandingan-olahraga-.
Penulis : Kahfi Dirga Cahya
Editor : Lusia Kus Anna

Editor: Ari Nugroho
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved