Kewajiban Salat Jumat Gugur Bila Idul Fitri Jatuh di Hari Jumat, Begini Pendapat Para Ulama

Idulfitri 1439 Hijriah dalam kalender nasional, jatuh tepat pada hari Jumat (15/6/2018). Apa hukumnya salat Jumat?

Kewajiban Salat Jumat Gugur Bila Idul Fitri Jatuh di Hari Jumat, Begini Pendapat Para Ulama
tribunjogja/santoari
Gumuk Pasir Parangkusumo yang dijadikan tempat beribadah Salat Ied. 

“Pada hari ini telah tergabung pada kalian dua hari raya. Siapa yang mau, salat id itu sudah mencukupi dari Jumat. Aku sendiri menggabungkannya.” (HR. Abu Daud no. 1073, Ibnu Majah no. 1311. Hadis ini dhaif menurut Al-Hafizh Abu Thahir. Namun hadis ini memiliki penguat dan sudah cukup dengan hadis sebelumnya)

Dalil di atas dipahami oleh Imam Asy-Syaukani sebagai berikut.

Imam Asy-Syaukani rahimahullah berkata, "Kalau Ibnu Az-Zubair menyebut tidak menambah salat apa pun sampai Asar, secara tekstual menunjukkan bahwa Ibnu Az-Zubair tidak melaksanakan salat Zuhur.

Kalau salat Jumat dikatakan gugur, maka tidaklah wajib pula melaksanakan salat Zuhur. Inilah pendapat dari Atha’. Inilah yang disebut dalam kitab Al-Bahr. Pendapat ini muncul karena menganggap bahwa salat Jumat itu asal (pokok). Yang diwajibkan di hari Jumat adalah salat Jumat. Karenanya mewajibkan salat Zuhur bagi yang meninggalkan salat Jumat (pada kondisi tersebut, pen.) ketika ia meninggalkannya ada uzur ataupun tidak, harus ada dalil. Nyatanya tidak ada dalil yang dijadikan pegangan sejauh yang kuketahui.” (Nail Al-Authar, 4: 408).

Kesimpulan:
Boleh bagi orang yang telah mengerjakan salat id untuk tidak menghadiri salat Jumat sebagaimana berbagai riwayat pendukung dari para sahabat dan tidak diketahui ada sahabat lain yang menyelisihi pendapat ini.

– Pendapat kedua yang menyatakan boleh bagi orang yang telah mengerjakan salat id tidak menghadiri shalat Jumat, ini bisa dihukumi marfu’ (perkataan Nabi) karena dikatakan “ ashobas sunnah (ia telah mengikuti ajaran Nabi)”. Perkataan semacam ini dihukumi marfu’ (sama dengan perkataan Nabi), sehingga pendapat kedua dinilai lebih tepat.

– Mengatakan bahwa riwayat yang menjelaskan pemberian keringanan tidak salat jumat adalah khusus untuk orang yang nomaden seperti orang badui (yang tidak dihukumi wajib salat Jumat), maka ini adalah terlalu memaksa-maksakan dalil. Lantas apa faedahnya Utsman mengatakan, “Namun siapa saja yang ingin pulang, maka silakan dan telah kuizinkan”? Begitu pula Ibnu Az Zubair bukanlah orang yang nomaden, namun ia mengambil keringanan tidak salat Jumat, termasuk pula Umar bin Khattab yang melakukan hal yang sama.

– Dianjurkan bagi imam masjid agar tetap mendirikan salat Jumat supaya orang yang ingin menghadiri salat Jumat atau yang tidak salat id bisa menghadirinya. Dalil dari hal ini adalah anjuran untuk membaca surat Al A’laa dan Al Ghosiyah jika hari id bertemu dengan hari Jumat pada salat id dan shalat Jumat. Dari An Nu’man bin Basyir, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca dalam dua id dan dalam salat Jumat “ sabbihisma robbikal a’la ” dan “hal ataka haditsul ghosiyah”.” An-Nu’man bin Basyir mengatakan, begitu pula ketika hari id bertepatan dengan hari Jumat, beliau membaca kedua surat tersebut di masing-masing salat. (HR. Muslim no. 878)

Hadis ini juga menunjukkan dianjurkannya membaca surat Al-A’laa dan Al-Ghasiyah ketika hari id bertetapan dengan hari Jumat dan dibaca di masing-masing salat (salat id dan salat Jumat).

– Siapa saja yang tidak menghadiri shalat Jum’at dan telah menghadiri shalat id, maka wajib baginya untuk mengerjakan salat Zuhur sebagaimana dijelaskan pada hadis yang sifatnya umum. Hadis tersebut menjelaskan bahwa bagi yang tidak menghadiri salat Jumat, maka sebagai gantinya, ia menunaikan salat Zuhur (4 rakaat). (Lihat Fatwa Al-Lajnah Ad-Da’imah li Al-Buhuts Al-‘Ilmiyyah wa Al-Ifta, 8: 182-183, pertanyaan kelima dari Fatwa no. 2358, Mawqi Al-Ifta). (*)

Editor: dik
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved