Idul Fitri 1439 H

Selain Takbiran, Ini Aktivitas yang Dianjurkan saat Malam Idul Fitri

Idul Fitri adalah adalah hari raya umat Islam yang jatuh pada tanggal 1 Syawal pada penanggalan Hijriyah.

Penulis: Hanin Fitria | Editor: Muhammad Fatoni
ist
Ilustrasi 

TRIBUNJOGJA.COM - Idul Fitri merupakan hari besar dinantikan oleh umat muslim di seluruh dunia.

Idul Fitri adalah adalah hari raya umat Islam yang jatuh pada tanggal 1 Syawal pada penanggalan Hijriyah.

Sebagian masyarakat telah mempersiapkan diri untuk menyambut hari besar tersebut.

Terlebih malam sebelum Idul Fitri tiba, banyak kegiatan yang dilakukan oleh umat muslim untuk menyambutnya, satu di antaranya adalah Takbiran.

Takbiran di Indonesia merujuk pada aktivitas yang biasa dilakukan umat muslim untuk mengucapkan kalimat takbir (Allahu Akbar) secara bersama-sama.

Lebih spesifik lagi, aktivitas ini merujuk pada aktivitas perayaan mereka pada malam hari dalam menyambut datangnya Idul Fitri dan Idul Adha.

Selain takbiran, ternyata ada beberapa kegiatan yang dapat dilakukan umat muslim untu menyambut hari kemenangan tersebut.

Dilansir dari NU Online, pada malam Idul Fitri umat muslim dianjurkan untuk mengisi malam Id dengan beribadah kepada Allah SWT.

Hanya saja tidak ada ketentuan perihal ibadah apa yang seharusnya dilakukan di malam Id.

Artinya, seseorang yang mengambil ibadah apapun bentuknya, maka sesungguhnya ia telah menghidupkan malam Id sebagaimana anjuran kuat agama Islam.

Dari sini kita dapat mengambil simpulan bahwa masalahnya tidak terletak di dalam atau di luar kampung.

Masalahnya adalah apakah yang bersangkutan itu beribadah atau tidak; di dalam maupun di luar kampung.

ويسن إحياء ليلتهما ولو جمعة بالعبادة من نحو صلاة وقراءة وذكر لخبر مَن أَحْيَا لَيْلَتَيِ العِيْدِ أَحْيَا اللهُ قَلْبَهُ يَوْمَ تَمُوْتُ القُلُوْبُ. ويحصل بإحياء معظم الليل وبصلاتي الصبح والعشاء في جماعة، بل وبصلاة الصبح جماعة

Artinya, “(Kita) dianjurkan untuk menghidupkan dua malam Id sekalipun jatuh pada hari Jumat dengan pelbagai jenis ibadah seperti sembahyang, tadarus, atau zikir berdasarkan hadits, ‘Siapa yang menghidupkan dua malam Id, maka Allah akan menghidupkan hatinya pada hari di mana hati manusia mati.’ Kesunahan itu dianggap memadai dengan menghidupkan hampir semalam suntuk ibadah, dengan sembahyang Isya dan Subuh berjamaah, atau bahkan sekadar sembahyang Subuh berjamaah,” (Lihat Syekh Sa‘id bin Muhammad Ba‘asyin, Busyral Karim, Beirut, Darul Fikr, 1433-1434 H/2012 M, juz II, halaman 353).

Dari penjelasan di atas kita dapat menarik simpulan bahwa tradisi takbiran keliling masyarakat juga termasuk bagian dari menghidupkan malam Id.

Atau bahkan mereka yang terbaring di rumah sakit juga terbilang telah menghidupkan malam Id hanya dengan zikir, tadarus Alquran, sedekah, atau ibadah ringan lainnya.

(Tribun Jogja/Hanin Fitria)

Sumber: Tribun Jogja
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved