Singgah di Masjid Bersejarah

Video Masjid Pathok Negoro Babadan, Warga Sekampung Terpaksa Meninggalkan Masjid

Video Masjid Pathok Negoro Babadan, Warga Sekampung Terpaksa Meninggalkan Masjid

Prihatin atas kondisi ini, seorang ulama beranama Kyai Slamet Muthohar, pada kisaran tahun 1960an, menginisiasi dibangunnya kembali masjid Pathok Negara sebagai tempat ibadah dan syiar islam.

Sebelum membangun masjid pathok negara, Kyai Muthohar menghadap Sultan untuk meminta restu.

Kala itu, pemerintahan dipegang oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX.

"Sri Sultan merestui dan membantu apa saja yang dibutuhkan Kyai Muthohar untuk membangun kembali masjid pathok negara ini," terang Harsoyo.

Ad-Darojat

Ketika selesai dibangun ulang, atas petunjuk Sultan HB IX, Masjid ini kemudian diberi nama Ad-Darojat. Nama ini merujuk pada nama kecil sang Sultan yakni Darojatun.

Lambat laun, masyarakat kemudin mengenalnya menjadi masjid Pathok negoro Addarojat, Babadan, Banguntapan.

Setelah dibangun ulang seadanya, pada tahun 1960 an, masjid ini terus mengalami perbaikan di berapa bagian.

Pada tahun 1980, renovasi dilakukan pada pembangunan Serambi masjid. Mengingat bangunan utama masjid mulai mengalami kemiringan maka dilakukan pembangunan total, pada tahun 1990.

Dan puncaknya pada tahun 2005, pembangunan disempurnakan pada bagian depan masjid.

Bangunan utama masjid ini memiliki ukuran 15x15 meter persegi berbentuk tajug, dengan empat soko guru sebagai penyangga.

Empat tiang ini berdiri setinggi sekira 12 meter. Terlihat begitu kokoh.

Ornamen yang ada di dalam masjid ini sudah mengikuti masjid gaya kekinian. Dengan berbagai tulisan kaligrafi menghias dibagian temboknya.

Menengok bagian atas, Masjid ini memiliki Mustaka nyaris sama persis dengan masjid kagungan dalem pada umumnya. Mustaka masjid berusia 244 tahun ini berbentuk buah nanas.

Bagian ujungnya membentuk gada (senjata pemukul) dengan hiasan bunga mekar dan daun kluweh. Bentuk mustaka seperti ini memiliki filosofi mendalam pada nilai-nilai ketauhidan.

"Gada itu kan artinya manunggaling gusti. Pada satu Tuhan. Dan ada juga daun Kluweh, artinya linuwih, kenikmatan Tuhan yang luas tak terbatas," ungkapnya.

Beberapa tokoh yang sering berkunjung ke masjid Pathok negoro Addarojat Babadan ini, diungkapkan oleh Harsoyo adalah Gusti Bendoro Pangeran Haryo Joyokusuma.

Semasa hidupnya, kalau malam hari, adik kandung Sri Sultan Hamengkubuwono X ini sering berkunjung ke Masjid Pathok Negara Babadan untuk i'tikaf, berdiam diri.

"Masa hidupnya, beliau (Gusti Joyokusuma) berkunjung kesini bersama pangeran. Biasanya i'tikaf dan serasehan bersama Takmir," tutur dia. (ahmad syarifudin)

Penulis: Ahmad Syarifudin
Editor: has
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved