Bantul

Jelang Idul Fitri, Rumah Produksi Madu Mongso di Bantul Kebanjiran Pesanan

Kudapan ini selain memiliki rasa legit, gurih, juga memiliki rasa manis bercampur asam.

Jelang Idul Fitri, Rumah Produksi Madu Mongso di Bantul Kebanjiran Pesanan
TRIBUNJOGJA.COM / Ahmad Syarifudin
Proses pembuatan jajanan madu mongso di Ngringinan RT 10, Palbapang, Bantul.

Laporan Reporter Tribun Jogja, Ahmad Syarifudin

TRIBUNJOGJA.COM,BANTUL - Menjelang datangnya Idul Fitri 1439 H, masyarakat banyak yang berburu makanan untuk hidangan hari raya maupun oleh-oleh bagi sanak keluarga.

Satu di antara pilihan makanan hari raya adalah Madu Mongso.

Madu mongso merupakan makanan olahan yang terbuat dari bahan dasar ketan.

Kudapan ini selain memiliki rasa legit, gurih, juga memiliki rasa manis bercampur asam.

Tak jarang, makanan kecil ini menjadi pilihan sajian keluarga di meja tamu ketika lebaran tiba.

Alhasil, meningkatnya permintaan menjelang hari raya membuat rumah produksi madu Mongso di Bantul banjir pesanan.

Pemilik rumah produksi olahan makanan Madu Mongso, Emilia Andriyani, mengatakan menjelang datangnya Idul Fitri, pesanan madu mongso miliknya meningkat drastis hampir 10 kali lipat dari hari biasanya.

"Meningkatkan sangat banyak. Bisa mencapai 10 kali lipat, itu saja kami sampai kurang tenaga dan kewalahan. Karena banyak yang membutuhkan (madu mongso) untuk oleh-oleh," ujarnya, Jumat (8/6/2018).

Andriyani, sapaan akrabnya, mengaku kadang sampai harus menolak pesanan karena kekurangan tenaga kerja untuk memproduksi adonan Madu Mongso.

Pasalnya, madu mongso di rumah produksi miliknya di Ngringinan, Rt 10, Palbapang, Bantul masih menggunakan olahan tradisional.

Semua pekerjaan dari pengolahan sampai pengemasan masih menggunakan tenaga manusia.

"Kendalanya ya itu di tenaga kerja. Saya sudah memaksimalkan potensi semua yang ada. Namun, sebanyak kita membuatnya mesti kurang. Istilahnya kita sampai kuwalahan. Peminatnya melebihi dari target," ungkapnya, senang.

Dilanjutkannya, selama bulan puasa ini pihaknya sudah menghabiskan setengah ton ketan dengan hasil jajanan madu mongso mencapai satu ton produksi.

"Biasanya menjelang hari-hari terakhir semakin banyak sampai kehabisan bahan. Kami menolak pesanan. Tapi sebisa mungkin kami mengutamakan pelanggan," terangnya.

Ketika ditanya mengapa masih menggunakan cara manual dalam membuat Madu mongso, Andriyani mengungkapkan, madu mongso yang dibuat dengan cara tradisional memiliki cita rasa yang khas dibandingkan olahan dengan mesin pabrik.

"Dikerjakan secara manual, cita rasanya lebih enak. Bahan untuk membakar masih memakai kayu. Karena masih sangat tradisional, jadi cita rasanya masih alami," ujar dia.

Madu mongso hasil kreasi dari Andriyani bisa ditemui di toko oleh-oleh di daerah Ganjuran, maupun bisa datang langsung di rumah produksinya di Ngringinan.

Madu Mongso buatannya itu ia kemas dalam tempat Mika dan toples berbagai ukuran yang sangat cocok sebagai cindera mata maupun oleh-oleh khas lebaran.

"Madu mongso ini tidak pakai pengawet. Bisa bertahan selama dua bulan. Cocok sebagai cindera mata, oleh-oleh dan buah tangan kepada kerabat maupun karyawan," tuturnya.

Harga jajanan madu mongso ini terbilang cukup ekonomis.

Satu kilo dalam kemasan Mika dijual dengan harga Rp35 ribu.

Sementara dalam bentuk toples, satu kilonya dijual dengan harga Rp45 ribu. (*)

Penulis: Ahmad Syarifudin
Editor: ton
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved