Serial Masjid Bersejarah

Video Masjid Jami Al Munawwir, Syiar Berbasis Pesantren

Masjid Jami' Al Munawwir menjadi pusat peribadatan dan sosial kemasyarakatan berbasis pondok pesantren.

TRIBUNJOGJA.COM - Berdiri gagah diperbatasan Kabupaten Bantul dan Kota Yogya, Masjid Jami' Al Munawwir menjadi pusat peribadatan dan sosial kemasyarakatan berbasis pondok pesantren. 

Ketika  matahari baru saja condong kearah Barat, lepas dari pukul dua, sore itu, suasana masjid Jami' Al-Munawwir masih tampak lengang. Hanya ada beberapa santri didalam masjid yang terlihat tengah membaca Alquran dengan khusuk.

Masjid Jami' Al Munawwir berada tepat di tengah kompleks pondok pesantren Krapyak, Panggungharjo, Sewon, Bantul. Bangunan masjid ini berdiri gagah, menjulang tinggi tiga lantai.

Kemegahan masjid ini tampak jelas dari ornamen yang ada didalam masjid. Tiang dan segala sudut tembok didominasi oleh keramik marmer mengkilat.

Lampu yang menggantung perkasa di tengah masjid terbuat dari kristal. Tampak mewah. Selayaknya masjid lain, ada juga ornamen kaligrafi yang tampak indah terpahat di tembok di depan area pengimaman.

Bagian sayap kiri masjid ada tempat wudhu yang di depannya terdapat kolam kecil untuk membasuh kaki sebelum dan selepas mengambil air wudhu.

Di sebelah kiri dan kanan bangunan masjid ini dikelilingi juga oleh bangunan pondok. Tempat di mana para santri tinggal menetap dan menuntut ilmu agama.

Tak berselang lama, ketika Tribun Jogja tengah menikmati keindahan bangunan masjid, adzan ashar menggema.
Beberapa santri terlihat berdatangan segera memadati saf-saf didalam masjid. Jamaah salat ashar, sore itu, berlangsung khidmat.

Ketua Takmir Masjid, KH Muhtarom Busyro, S.Ag. M.S.I, menceritakan, Masjid Jami' Al Munawwir merupakan basis semua aktifitas dan sentral kegiatan para santri di lingkungan pondok pesantren Al-munawwir.

Masjid ini dibangun pertama kali pada tahun 1911 oleh KH Moenawwir Bin KH Abdullah Rosyad sepulang dari belajar ilmu agama selama 21 tahun di kota Makkah Almukarromah, Arab Saudi.

Bagaimana kisah selanjutnya? Baca Tribun Jogja edisi Kamis, 7 Juni 2018.

Penulis: Ahmad Syarifudin
Editor: ribut raharjo
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved