Breaking News:

Bisnis

Asbisindo Tetapkan Hari BPR Syariah Indonesia

DPP BPRS Asbisindo menetapkan tanggal 17 Ramadan atau 2 Juni sebagai hari BPRS Indonesia.

Editor: Ari Nugroho
IST
Kepala Departemen Perbankan Syariah OJK, Ahmad Soekro Tratmono disaksikan jajaran pengurus Asbisindo, Kepala OJK DIY, dan Kepala KPw BI DIY saat melakukan pemukukan gong sebagai peresmian hari BPRS Indonesia, Sabtu (2/6/2018) 

Laporan Calon Reporter Tribun Jogja Yosef Leon Pinsker

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Kompartemen Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) Asosiasi Bank Syariah Indonesia (Asbisindo) menetapkan tanggal 17 Ramadan atau 2 Juni sebagai hari BPRS Indonesia.

Pencanangan hari BPRS tersebut dilakukan sekaligus bersamaan dengan Tasyakuran bersama seluruh perwakilan Asbisindo se-Indonesia, Sabtu (2/6/2018) bertempat di Hotel Grand Dafam Rohan.

Ketua DPP Kompartemen BPRS Asbisindo, Cahyo Kartiko mengatakan penetapan ini dilakukan berdasarkan tanggal terbentuknya Asbisindo yang digagas oleh lima BPRS di Bandung dan juga sekaligus bertepatan dengan peristiwa Nazulul Quran.

Dia melanjutkan, BPRS sebagai industri keuangan yang baru berkembang perlu adanya dorongan dan insentif, baik dari pihak internal maupun eksternal.

Baca: Perbarindo Dorong BPR Lakukan Sindikasi Kredit

"Selain itu, kami juga perlu memberikan kepedulian yang lebih agar masyarakat lebih mengenal BPRS sebagai salah satu lembaga keuangan mikro syariah yang turut serta dalam membangun ekonomi nasional, terutama ekonomi yang berbasis pada prinsip syariah," paparnya.

Ketua DPW Asbisindo DIY, Edi Sunarto menambahkan selain penetapan hari BPRS Indonesia, kegiatan ini juga bertujuan menjalin silaturahmi untuk dapat menggerakkan perekonomian Indonesia, khususnya ekonomi syariah.

Sementara itu, Kepala Departemen Perbankan Syariah OJK, Ahmad Soekro Tratmono mengatakan pertumbuhan perbankan syariah di Indonesia saat ini cukup signifikan.

Saat ini industri perbankan syariah di Indonesia terdiri dari 13 bank umum syariah, 21 unit usaha syariah, dan 167 BPRS yang pertumbuhannya pada tahun 2017 tercatat sebesar 17 persen.

Hal ini yang membuat Indonesia menjadi peringkat ke-4 dunia dalam perkembangan industri keuangan syariah.

Baca: Pengajian Akbar dan Pesta Rakyat Meriahkan Ulang Tahun ke-10 Bank Jateng Syariah

"Artinya yang perlu kita tanamkan adalah sikap konsisten dalam penerapan prinsip syariah, yaitu menghindari Maghrib, singkatan dari Maysir, Gharar dan Riba.Ketiganya merupakan praktik-praktik muamalah yang dilarang dalam Islam," tegasnya.

Dia juga mengimbau para pelaku BPRS untuk selalu mengembangkan produk dan pelayanannya, terutama terkait dengan perkembangan teknologi yang semakin cepat.

"Oleh karena itu, penggunaan teknologi dan sinergi dengan fintech syariah menjadi suatu keharusan yang dilakukan industri keuangan syariah," terangnya.

Acara juga dilengkapi dengan pemberian penghargaan kepada Alm. Waris Sucipta dan Alm. Tri Hari Wijayanto, yang dianggap telah berjasa dalam usaha pengembangan BPRS. (tribunjogja.com)

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved