Sleman

Antisipasi Kelangkaan Gas Melon, Disperindag Sleman Manfaatkan Kuota Fakultatif

Tri Endah Yitnani, selaku Kepala Disperindag Sleman mengungkapkan, untuk mengantisipasi langkanya elpiji, pihaknya memanfaatkan kuota fakultatif.

Antisipasi Kelangkaan Gas Melon, Disperindag Sleman Manfaatkan Kuota Fakultatif
TRIBUNJOGJA.COM / Rendika Ferri K
Ilustrasi: Warga tengah mengantri tabung gas elpiji tiga kilogram 

Laporan Calon Reporter Tribun Jogja, Siti Umaiyah

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Untuk mengantisipasi langkanya gas elpiji pada saat puasa lebaran, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Sleman telah menambah pasokan dari hari-hari biasa.

Tri Endah Yitnani, selaku Kepala Disperindag Sleman mengungkapkan, untuk mengantisipasi langkanya elpiji, pihaknya memanfaatkan kuota fakultatif.

Dari ketersediaan normal gas elpiji ukuran 3 kilogram aias gas melon sebanyak 987.040 tabung, naik menjadi 4% yakni sebanyak 1.026.522 tabung.

"Ketersediaan gas elpiji dalam mengantisipasi lebaran kami memanfaatkan kouta fakultatif. Untuk elpiji 3 kilo yang biasanya 987.040 tabung, sekarang kami sediakan untuk lebaran 1.026.522 tabung. Jadi ada tambahan sekitar 4%," ungkapnya.

Baca: Tiba-tiba Lihat Orang Bawa Elpiji di Jalan, Lalu Muncul Ide Bikin Helm Gas Melon 3 Kg

Sedangkan untuk ukuran 12 kilogram, terdapat penambahan sebanyak 16% yakni, dari biasanya sebanyak 26.256 menjadi 30.454 tabung.

"Kami perkirakan sudah mencukupi. Namun, nanti jika dilapangan ada kelangkaan, maka diajukan lagi kouta fakultatif," terangnya.

Berkenan dengan harga, Endah mengakui pihaknya mendapati terdapat harga yang tidak sesuai.

Baca: Pertamina: Kalau Elpiji 3 Kg di Luar Habis, di SPBU Pasti Ada

Jika seharusnya hanya seharga Rp. 15.500 rupiah, menjadi Rp. 20.000-21.000.

"Harga dipasaran ternyata sekitar 20 ribu sampai dengan Rp. 21.000,- ribu. Padahal harusnya Rp. 15.500. Hal tersebut terjadi karena seharusnya dari agen, pangkalan langsung konsumen. Namun, adanya pengecer yang biasa membebankan biaya distribusi ke konsumen membuat harga menjadi naik. Padahal secara aturan pengecer itu tidak ada," ungkapnya. (TRIBUNJOGJA.COM)

Penulis: Siti Umaiyah
Editor: Ari Nugroho
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved