Lipsus Gelimang Rupiah dari Bisnis Kicau
Pebisnis Burung di Sleman Rela Gelontorkan Rp 2 Miliar
Demi indukan burung terbaik, ia menganggarkan dana miliaran rupiah untuk mendatangkan indukan kenari terbaik dari negara Belanda dan Jerman.
Penulis: sis | Editor: Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM - Dunia kicauan yang tengah menggeliat rupanya dimanfaatkan betul oleh sejumlah penangkar burung kicauan untuk mencetak dan menghasilkan burung-burung berkualitas terbaik di kelasnya.
Satu di antaranya adalah Dian Nur Cahyo.
Sudah hampir tiga tahun, pemuda 29 tahun ini fokus untuk menangkarkan burung kenari jenis yorkshire.
Dian rupanya tak main-main dalam menggeluti bisnis penangkaran burung ini.
Dia bersama ketiga kawannya, rela merogoh kocek dengan jumlah fantastis untuk mendatangkan indukan burung kenari jempolan.
Demi mendapatkan indukan burung terbaik itu, Dian bersama kolega mesti menganggarkan dana miliaran rupiah untuk mendatangkan indukan kenari terbaik dari negara Belanda dan Jerman.
"Misalnya yang terakhir kemarin. Sekali datang bisa mencapai 450 ekor burung, invoice-nya sekitar 2 M (2 miliar rupiah)," kata Dian saat Tribun Jogja bertandang ke kediamannya, kemarin.
"Mayoritas burung dari Belanda dan Jerman," lanjutnya
Dian menjelaskan, di tempat asalnya satu ekor burung itu dibanderol dengan harga bervariasi.
Rata-rata, satu ekor burung dihargai di atas Rp5 juta.
Harga itu bisa lebih murah ketika membeli burung dalam jumlah banyak.
Proses pengiriman burung ini terbilang cepat.
Dibutuhkan waktu tiga hari untuk sampai ke Indonesia dari tempat asalnya di daratan Eropa.
Burung-burung ini dikirim dari negara eksportir dengan kotak khusus melalui jalur udara.
Dian berani memastikan burung-burung yang dia datangkan sudah sesuai ketentuan dan terjamin kesehatannya.
"Ini (burung) sebelum sampai ke tempat kami, sebelumnya sudah dicek dulu di balai karantina untuk memastikan burung dalam kondisi fit, tidak membawa virus, tidak mengkhawatirkan untuk masuk ke Indonesia, barulah sampai ke tangan kita. Biasa ngambilnya di (bandara) Juanda (Surabaya)," ujar Dian.
Setelah melalui proses yang cukup panjang itu, burung-burung itu kemudian disortir, sebelum akhirnya diperjualbelikan kembali di lapak khusus penjualan burung yang dikelola Dian di Jongkang, Sariharjo, Ngaglik, Sleman.
Dalam proses penyortiran itu, burung-burung yang terbilang istimewa dipisahkan, dilabeli dengan harga yang berbeda yang mana cenderung lebih mahal dari burung dengan kualitas biasa.
"Burung-burung terbaik itu kami beri harga yang berbeda. Kalau pembeli mau dengan harga segitu, ya kami lepas, tapi kalau tidak mau, ya kami buat indukan sendiri," jelasnya.
Dalam sekali transaksi, Dian bisa meraup keuntungan berlipat dari bisnis jual beli burung ocehan ini.
Dari burung-burung bahan kualitas biasa, Dian biasa melepas seekor burung dengan harga Rp7 juta.
Sedangkan untuk burung-burung bahan kualitas istimewa akan dilepas di harga lebih dari Rp10 juta.
Belum lagi ketika burung itu sudah dalam kondisi terbaik, ibaratnya burung itu sudah siap untuk dilombakan, banderol harganya pun semakin tinggi.
Dian pernah melepas satu ekor burung beprestasi di harga Rp70 juta.
Bahkan saking istimewanya seekor burung, Dian pernah mendapatkan tawaran Rp100 juta untuk satu ekor burung.
"Kita mengikuti market (pasar) Indonesia saja," jawabnya singkat.
Rata-rata para pembeli yang datang adalah para reseller, pemain, maupun peternak dari Yogya, Solo, Surabaya, Lampung dan sejumlah kota-kota besar di Indonesia.
"Prioritas ke reseller dulu, baru ke pengecer. Reseller kebagian barulah ke pengecer, selebihnya kita ternak," imbuh pemilik peternakan DNC Canary ini.
Menurutnya iklim jual beli burung kenari jenis yorkshire di Indonesia cukup menjanjikan.
Pasalnya, burung-burung dengan kualitas baik dilabeli dengan harga berapapun pasti laku dijual.
Proses tawar-menawar pun menjadi hal yang jamak terjadi.
Saking tingginya permintaan burung kenari jenis ini, mengharuskan Dian untuk terjun langsung menangkarkannya.
Namun yang perlu diingat, menangkarkan kenari jenis yorkshire pun tak semudah seperti membeli burung bahannya.
"Semua orang bisa beli, tapi kalau untuk beternak harus melalui bermacam riset dahulu agar bisa mengetahui kemauan burung," ungkapnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/kontes-burung-kicauan-di-modalan-banguntapan-bantul_20180528_151428.jpg)