Pit Dhuwur
Pesan Tersembunyi di Balik Sepeda Tinggi
Pit Dhuwur atau sepeda tinggi, bagi beberapa masyarakat Yogyakarta tentu pernah melihat penampakan sepeda nyentrik ini.
Penulis: Amalia Nurul F | Editor: Hari Susmayanti
TRIBUNJOGJA.COM - Pit Dhuwur atau sepeda tinggi, bagi beberapa masyarakat Yogyakarta tentu pernah melihat penampakan sepeda nyentrik ini.
Entah bergerombol atau hanya satu dua pengendara saja, pasti selalu berhasil mencuri perhatian pengguna jalan lainnya.
Penasaran dengan seluk beluk sepeda tinggi ini, Tribun Jogja menemui satu dari pegiat sepeda tinggi di Yogyakarta.
"Sepeda tinggi ini sebenarnya dibawa dari luar negeri," tutur Diki Setiawan (23) saat ditemui Tribun Jogja di kawasan Kotagede.
Seorang pemain sirkus asal Italia bernama Piero inilah yang mengenalkan sepeda tinggi.
"Waktu itu sekitar tahun 2010, dia sedang ada acara di sini, dia ketemu sama kawan kami, Mas Kampret seorang artis tato," ujar Diki. "Mereka lalu barter antara tato dan sepeda tinggi," lanjutnya.
Dari bentuknya yang unik ini, ada pesan khusus yang dibawa, menurut Diki. "Sepeda tinggi ini kan nggak ada yang jual jadi. Semuanya dibuat dengan cara daur ulang, nggak mungkin dari pabrik," jelas Diki yang juga bekerja di sebuah bengkel sepeda ini.
Sepeda bekas hingga rongsokan komponen sepeda yang dibuang memang menjadi bahan untuk membuat sepeda tinggi ini. "Jadinya kan recyle, daur ulang dari limbah," kata Diki.
Simak ulasan lengkapnya di Koran Tribun Jogja edisi Minggu besuk. (tribunjogja)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/pesan-tersembunyi-di-balik-sepeda-tinggi_20180526_092610.jpg)