Bom Meledak di Surabaya

Tujuh Jenazah Terduga Teroris di Surabaya Ditolak Warga

Sejumlah aparat kepolisian dan TNI yang berada di lokasi kejadian tampak tak bisa mencegah aksi para warga yang marah dan geram

Editor: Mona Kriesdinar
ist/tribunjatim
Kobaran api diduga dari bom bunuh diri di depan GKI Jl Diponegoro, Kota Surabaya, Minggu (13/5/2018) 

Tapi tak mau mengakui orangtua anak tersebut sebagai keluarganya.

"Pamannya tadi sudah datang tapi dia cuma mau menjenguk A dan tidak mau mengakui orang tua A keluarganya," kata Kombes Pol Frans Barung Mangera.

Jangankan untuk mengakui, Menurut Barung, paman AIS juga tidak mau melihat jenazah dari Tri Murtiono (ayah A) dan Tri Ernawati (Ibu A).

"Paman dan kakeknya AIS juga tidak mau lihat jenazah. Pokoknya dia tidak mau mengakui kalau mereka (orang tua A) keluarganya. Kecuali A," jelasnya di Media Center Polda Jatim.

Di sisi lain, sebelumnya juga ada penolakan jenazah pelaku terduga teroris.

Yakni jenzah Puji Kuswati (43) istri Dita Oeprianto, pelaku bom gereja.

Pihak keluarga dan orangtua Puji yang berada di Banyuwanngi tak mengizinkan jenazah Puji dimakamkan di Banyuwangi.

Diberitakan sebelumnya, rangkaian bom bunuh diri meledak di Jawa Timur.

Dua kota besar menjadi sasaran para teroris, yakni Surabaya dan Sidoarjo.

Diantaranya adalah bom yang meledak di tiga Gereja di Surabaya.

Yakni Gereja GKI Jalan Diponegoro, Gereja Pantekosta Pusat Surabaya di Jalan Arjuno, dan Gereja Santa Maria Tak Bercela Jalan Ngagel.

Ketiga bom tersebut meledak dalam kurun waktu yang nyaris bersamaan di pagi hari, Minggu (13/5/2018)

Pada malam harinya, masyarakat kembali dikagetkan dengan sebuah bom yang meledak di Rusunawa Sidoarjo.

Kali ini bom meledak di salah satu hunian rusun di blok B.

Halaman
123
Sumber: TribunWow.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved