Erupsi Freatik Merapi
Ternyata Begini Penampakan Abu Vulkanik Letusan Freatik Merapi Bila Diperbesar Hingga 600 Kali
Ternyata begini penampakan abu vulkanik letusan freatik Merapi bila diperbesar hingga 600 kali.
Penulis: say | Editor: Hari Susmayanti
TRIBUNJOGJA.COM - Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta memastikan, letusan Gunung Merapi pada Jumat (11/5/2018) adalah letusan freatik.
Ini ditandai dengan tidak ditemukannya juvenile dari material yang dimuntahkan.
Selasa (15/5/2018), BPPTKG mengadakan diskusi bersama akademisi dan pihak-pihak terkait, untuk memaparkan detail letusan freatik Merapi dan upaya penanggulangan ke depannya.
Seperti TribunJogja.com kutip dari laman merapi.bgl.esdm.go.id, indikasi temal Merapi pada Jumat (11/5/2018) pukul 7.20 WIB, meningkat dua kali lipat lebih besar dari biasanya.
Pihak-pihak terkait sudah berupaya memberikan perinngatan kepada para pendaki.
Namun karena jarak peringatan dengan letusan hanya 15 menit, maka waktu yang ada tidak cukup untuk melakukan evakuasi.
Beruntung letusan ini tidak melontarkan material ke arah Pasar Bubrah di mana ada banyak pendaki, sehingga mereka tetap aman.
Baca: Misteri Kaki Menyembul dari Tanah Kuburan di Kediri
Setelah letusan, status Merapi juga kembali normal.
"Data dari berbagai metoda monitoring yaitu metode seismik, deformasi, dan geokimia tidak menunjukkan prekursor yang jelas bahkan stasiun tiltmeter terdekat (1 km dari pusat kawah) sampai dengan menit terakhir tidak menunjukkan perubahan terkait erupsi ini," demikian keterangan tertulis di laman tersebut.
Dari hasil analisa Mikroskop Binocular, Scanning Electron Microscope (SEM) dan X – Ray Fluorescence (XRF) terhadap sampel abu vulkanik yang diambil dari tiga lokasi, yakni di Tlogoputri, Telogo Muncar dan Pos Kaliurang, BPPTKG tidak menemukan adanya material juvenile, yang biasa ditemukan di letusan magmatik.
Ini semakin menguatkan bahwa letusan tersebut adalah freatik, yang diakibatkan oleh uap air, yang terakumulasi di dekat dapur maagma.
Hasil pengamatan dengan menggunakan mikroskop binokuler, butiran abu letusan freatik Merapi pekan lalu dapat diklasifikan menjadi empat, yakni material teralterasi, free crystals, lithik, dan butiran mengkilap yang diduga glass.
Hasil pengamatan menunjukkan sebagian besar merupakan spektrum plagioclase, dan pyroxene.
Sementara satu spektrum yang diduga sebagai glass, setelah dibandingkan dengan literatur merupakan spektrum dari amphibole.
Ini menunjukkan bahwa dari sampel butir material yang dianalisis belum ditemukan butiran juvenileglass (glass shard).
BPPTKG juga merilis bentuk abu vulkanik letusan freatik Merapi bila diperbesar hingga 600 kali.
Ternyata seperti ini bentuknya.
(tribunjogja)