Bisnis

Bank Indonesia Akui Tanda Tangan Digital PrivyID

Data resmi dari Asosiasi Fintech Indonesia menyebutkan bahwa sudah ada 135 perusahaan fintech yang bergabung dalam asosiasi.

Bank Indonesia Akui Tanda Tangan Digital PrivyID
istimewa
Aplikasi PrivyID 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Wahyu Setiawan Nugroho 

TRIBUNJOGJA.COM - Maraknya perusahaan pinjaman online atau yang sekarang biasa kita kenal sebagai perusahaan Fintech, membuat Bank Indonesia (BI) lebih giat memantau industri teknologi finansial. 

BI lebih serius mengawasi mulai dari produk dan layanan fintech, model bisnis, manajemen risiko dan juga cara perusahaan fFntech mengelola informasi nasabahnya. 

Baru-baru ini Bank Indonesia merilis daftar 24 perusahaan Fintech, payment gateway dan juga perusahaan penunjang Fintech yang sudah lolos pemeriksaan Bank Indonesia.

Dari ke 24 perusahaan masuk dalam daftar di atas, PrivyID menjadi satu-satunya perusahaan penyedia tanda tangan digital yang sudah diperiksa dan diakui oleh bank Indonesia sebagai sistem penunjang teknologi finansial.

Bank Indonesia mengakui PrivyID sebagai sistem penunjang industri fintech, setelah melakukan penilaian terhadap beberapa aspek perusahaan, mulai dari teknologi tanda tangan digital yang disediakan PrivyID, bagaimana manajemen risiko informasi, kondisi keuangan sampai transaksi yang dilakukan di platform PrivyID

Setelah terdaftar, setiap bulannya PrivyID harus melaporkan jumlah transaksi, produk - layanan dan model bisnis, sampai dengan perubahan kepemilikan saham.

Sederhananya, selain diakui secara resmi, PrivyID mulai saat ini juga diawasi oleh Bank Indonesia.

Menurut CEO PrivyID, Marshall Pribadi, PrivyID sengaja mendaftar ke Bank Indonesia untuk menunjukkan bahwa cara kerja tanda tangan digital dan cara berbisnis PrivyID diakui integritas dan keamanannya oleh regulator. 

"Setelah terdaftar di BI, orang jadi bisa tahu bahwa tanda tangan digital dari PrivyID ini bukan sekedar oret-oret di tablet, karena diawasi oleh regulator sekelas Bank Indonesia. Banyak perusahaan fintech atau tanda tangan digital mengklaim mereka yang paling ini paling itu. Tapi pada akhirnya kan kita butuh pihak ketiga yang netral untuk menilai, dan Bank Indonesia sangat kompeten menilai perusahaan fintech dan penunjangnya," ujar Marshall melalui keterangan tertulis yang diterima Tribunjogja.com, Selasa (8/5/2018).

Halaman
12
Penulis: Wahyu Setiawan Nugroho
Editor: Gaya Lufityanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved