Seni budaya

Minim Tempat Pertunjukan, SangArt Suguhkan Tarian di Trotoar

Minim tempat pertunjukan, SangArt suguhkan tarian Bedhaya Banyu Neng Segara di trotoar depan Balaikota Yogyakarta.

Tribun Jogja/ Hasan Sakri
Tujuh penari menampilkan Tarian Bedhaya Banyu Neng Segara di trotoar depan Balaikota Yogyakarta, Minggu(6/5/2018). 

TRIBUNJOGJA.COM - Tujuh penari berdandan edan-edanan menari di trotoar utara Balaikota, Yogyakarta, Minggu(6/5/2018).

Tarian tersebut dibawakan oleh penari dari Pendhapa SangArt.

Mereka berjongkok kemudian memperagakan gerakan menyapu menggunakan sampurnya.

Vhira sang koreografer mengatakan sampur atau selendang merupakan kekuatan dari perempuan.

Banyak hal yang dilakukan perempuan melalui selendang, seperti menggendong.

"Selendang itu kekuatan perempuan. Menggendong pake apa? Selendang kan. Terus dulu kalau ngangkat bakul juga kan pake selendang, nah makanya kekuatan perempuan ada di situ," katanya.

Ia mengatakan tarian yang dihadirkan berjudul Bedhaya Banyu Neng Segara.

Tarian tersebut menceritakan tentang laku tujuh doa perempuan untuk bumi.

Tarian ini umumnya diperuuangkan oleh 7 atau 9 penari dan semua harus perempuan.

"Perempuan menjadi simbol kekuatan layaknya air bisa menyenangkan, bisa meluluhlantakan. Bedhaya jadi pesan pengingat tentang asal dan hakekat seperti air, jadi unsur penting dalam kehidupan manusia. Kalau dalam prosesi ruwat air digunakan untuk mengembalikan kesucian," terang Vhira.

Melalui tarian Bedhaya Banyu neng Segara, ia dan Pendapa SangArt ingin menunjukkan bahwa tarian bisa dinikmati oleh masyarakat umum.

Menurutnya Yogyakarta masih minim lokasi untuk menampilkan pertunjukan secara cuma-cuma.

"Tari Bedhaya merupakan tarian sakral yang hanya ditarikan di lingkungan kraton saja. Tetapi sekarang bisa dinikmati semua orang dan gratis. Melalui tarian ini juga ingin mengkritisi bahwa Yogyakarta masih kurang tempat untuk pertunjukan."

Pendapa SangArt sudah beberapa Kali melakukan tarian tepi jalan.

Hal itu guna memberikan pengertian pada masyarakat bahwa tarian itu bisa dinikmati masyarakat tanpa harus mengeluarkan biaya.

"Iya kami emang udah beberapa kali menampilkan tarian di pinggir jalan. Nggak cuma di Balaikota aja, pernah di Janti, Amplaz, macem-macem sih,"ungkap Vhira. (tribunjogja)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved