Kisah Sukses Suratmin Si Penggembala Kerbau

"Saya sudah 30 tahun menjadi penggembala kerbau, kalau dihitung-hitung sudah puluhan kerbau yang saya besarkan lalu dijual," katanya

Tayang:
Editor: Mona Kriesdinar
TRIBUN JATENG
Suratmin Penggembala Kerbau 

TRIBUNJOGJA.com, BATANG - Matahari belum tinggi, namun dua orang lelaki nampak bergegas menuju lahan persawahan yang sudah tak ditanami.

Sembari membawa bambu yang sudah dibentuk menyerupai cambuk kedua lelaki tersebut menggiring kawanan kerbau.

Sesampainya di lahan persawahan keduanya terus mengamati kawanan kerbau yang mereka gembala.

Kawanan kerbau yang berjumlah lebih dari 10 ekor ini mereka ikuti, sesekali kedua lelaki tersebut mengarahkan beberapa kerbau yang terpisah dari rombongan saat merumput.

Dua lelaki tersebut merupakan penggembala kerbau asal Desa Madugowojati Kecamatan Gringsing Kabupaten Batang.

Suratmin (70) satu di antara pengembala menerangkan kerbau menjadi tabungan mereka.

"Kerja kami ya menggembala kerbau, untuk tabungan karena harga jual kerbau mencapai 20 juta untuk satu ekor kerbau jantan," jelasnya, Jumat (27/4/2018).

Bahkan Suratmin bisa membeli tanah dan rumah dari hasil penjualan kerbaunya.

"Saya sudah 30 tahun menjadi penggembala kerbau, kalau dihitung-hitung sudah puluhan kerbau yang saya besarkan lalu dijual," jelasnya.

Namun pihaknya terkendala pembibitan kerbau, pasalnya jika ingin mengembang biakan harus ke daerah Sukorejo Kendal untuk perkawinan kerbaunya.

"Kebanyakan kerbau saya betina, karena untuk mendapatkan jantan sangat sulit, belum tentu 7 betina yang saya miliki dalam setahun melahirkan satu ekor jantan. Walaupun betina bisa di jual paling harganya Rp 12-14 juta," imbuhnya.

Dijelaskannya di Desa Madugowojati ada lima penggembala kerbau dengan omset pertahun dari penjualan kerbau hampir Rp 50-100 juta.

"Sebenarnya menjanjikan, apa lagi jika Pemkab membantu pembibitan, dengan menyediakan pejantan untuk perkawinan pasti tidak lebih menjanjikan," tuturnya.

Selain pembibitan, minimnya dokter hewan yang ada di sekitar desa acap kali membuat para peternak kebau merugi, karena telat menangani hewan gembalanya yang sakit.

"Dokter hewan juga dari Kendal, inginnya ada dokter hewan dari Pemkab yang keliling desa, supaya ada kontrol saat hewan ternak kami sakit. Seringnya kerbau salit karena memakan rumput yang sudah disemprot racun rumput, kalau tidak benar-benar memperhatikan saat menggembal bisa sakit kerbaunya karena tak jarang banyak pestisida dan racun rumput yang disemprotkan ke tanaman oleh petani," timpalnya. (*)

 ---

Artikel ini telah tayang di Tribunjateng.com dengan judul Kisah Suratmin si Pengembala Kerbau dengan Omset Rp 100 Juta per Tahun.
Penulis: budi susanto
Editor: Catur waskito Edy

Sumber: Tribun Jateng
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved