Kota Yogyakarta
Selasa Wage, Saatnya Malioboro Bernafas
Setiap Selasa Wage dimanfaatkan PKL, komunitas andong, komunitas becak, dan semua elemen masyarakat untuk Reresik Malioboro.
Penulis: Christi Mahatma Wardhani | Editor: Gaya Lufityanti
Laporan Calon Reporter Tribun Jogja, Christi Mahatma Wardhani
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA- Pemandangan berbeda disuguhkan Malioboro setiap Selasa Wage.
Trotoar tampak lengang, tak tampak gerobak Pedagang Kaki Lima (PKL).
Koordinator Divisi Keamanan dan Ketertiban Unit Pelaksana Teknis (UPT) Malioboro, Achmad Syamsudi mengatakan Selasa Wage semua PKL libur, hanya toko-toko saja yang tetap buka.
Setiap Selasa Wage dimanfaatkan PKL, komunitas andong, komunitas becak, dan semua elemen masyarakat untuk Reresik Malioboro.
"Semua elemen yanga ada di Malioboro ini ikut, dari PKL, becak, andong, komunitas, sekolah semua ikut Reresik Malioboro. Ini memang sudah acara rutin, 36 hari sekali kalau Selasa Wage, mulai dari pukul 05.30 - 09.00," terang Achmad.
Menurutnya, melalui kegiatan tersebut semua masyarakat diajak untuk merawat Malioboro.
Ia menambahkan kehidupan Malioboro 24 jam, sehingga membutuhkan istirahat.
"Tentu saja dengan Reresik Malioboro ini untuk mengajak masyarakat untuk merawat Malioboro. Kehidupan Malioboro kan 24 jam, biar ada nafasnya, berhenti satu hari," tambahnya.
Achmad mengatakan, PKL membersihkan area sekitar mereka berdagang.
Mulai dari menyampu, membersihkan gorong-gorong, hingga melakukan penyemprotan.
Meskipun tergolong program baru, Achmad mengatakan program tersebut sudah berhasil.
Selain menjaga kebersihan bersama, Ia berharap bisa meningkatkan kunjungan masyarakat.
"Ini belum lama, baru 6 atau 8 kali dilakukan. Melihat respon PKL, dan pedagang lain sih ini keberhasilan rencana pemerintah. Kalau Malioboro bersih kan harapnnya wisatawan semakin betah, semakin meningkat juga," pungkasnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/selasa-wage-malioboro_20180424_113236.jpg)