Breaking News:

Sastra

Penyair Simon HT Luncurkan Buku Kumpulan Puisi

Penyair Simon HT meluncurkan kumpulan puisi berjudul "Hursa" di Yayasan Guntur 49, Pasar Manggis, Setia Budi, Jakarta Selatan.

Istimewa
Butet Kartaredjasa (kiri), Halim HD (tengah), dan Simon HT (kanan), berpose menjelang launching buku kumpulan puisi karya Simon HT di Yayasan Guntur 49, Pasar Manggis, Setia Budi, Jakarta Selatan, Selasa (24/04/2018) sore. 

TRIBUNJOGJA.COM - Penyair Simon HT meluncurkan buku kumpulan puisi berjudul "Hursa" di Yayasan Guntur 49, Pasar Manggis, Setia Budi, Jakarta Selatan, Selasa (24/04/2018), sore.

Peluncuran buku ini mengangkat tema "Menghadirkan Puisi dalam Kehidupan".

Hadir sebagai pembahas, Halim HD. Pembaca puisi, Butet Kartaredjasa, dan moderator, Ons Untoro.

Peluncuran buku kumpulan puisi tahun 1977-2017 ini menarik para penikmat sastra.

Simon HT, penyair yang tinggal di Yogyakarta, selama ini dikenal sebagai pencetus puisi esai tahun 1983.

Budayawan dan sastrawan pun mengapresiasi terbitnya buku kumpulan puisi karya Simon HT.

"Simon HT itu filsuf sekaligus ideolog. Maka syair-syairnya ibarat lantai samudera terdalam dari penghayatannya atas semua sendi kehidupan," kata Butet.

Saat peluncuran buku itu, Butet yang selama ini dikenal sebagai aktor dan perupa, membacakan beberapa karya Simon HT, di antaranya "Hursa" dan "Genderang Perang Dunia ke-3".

Networker kebudayaan, Halim HD, mengatakan, jika puisi sebagai pertaruhan bagi kalangan penyair, maka puisi itu meletakkan dirinya ke dalam wujud bahasa yang lahir dari rasa keprihatinan.

Konteks kehidupan dalam seluruh aspeknya, keprihatinan menjadi cikal bakal bagi permenungan manusia tentang makna kehidupan yang dijalani secara individual dan sosial.

"Simon HT menuliskan puisi-puisinya sepanjang tiga-empat dekade sebagai perwujudan dirinya di dalam percaturan sastra, dan sastra sebagai pertanggungjawaban atas kehadiran dirinya di tengah-tengah perubahan pergolakan zaman," katanya.

Dalam pengantar bedah bukunya, Simon HT, mengatakan, puisi harus dibaca seperti mantra.

"Puisi sebaiknya menggambarkan kondisi sekarang, dan bagaimana memperbaikinya," katanya.

Karya sastranya tersebut ditulis di berbagai tempat, dan di berbagai saat.

"Aku hanya ingin memantulkan apa yang kualami, sekadar memberi kesaksian, membagi pemaknaan yang pernah aku lakukan terhadap kehidupan," jelasnya. (*)

Editor: Hari Susmayanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved