Kota Yogyakarta

Sejumlah Pedagang Berlapak depan Pasar Beringharjo Yogyakarta Mengadu ke LO DIY

Mereka yang tergabung dalam Paguyuban Pedagang Lapak (Papela) keberatan dengan kebijakan baru yakni membagi jam berdagang menjadi dua sesi.

Penulis: Yudha Kristiawan | Editor: Ari Nugroho
TRIBUNJOGJA.COM / Yudha Kristiawan
Sejumlah pengunjung membeli aksesoris di lapak sisi barat pasar Beringharjo 

Laporan Reporter Tribun Jogja Yudha Kristiawan

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Sejumlah pedagang yang berlapak di depan Pasar Beringharjo Yogyakarta (sisi barat) mengadu ke Lembaga Ombudsman (LO) DIY, Rabu (18/4/18).

Mereka yang tergabung dalam Paguyuban Pedagang Lapak (Papela) keberatan dengan kebijakan baru yakni membagi jam berdagang menjadi dua sesi. 

Sesi pertama dimulai pukul 05.00 hingga pukul 17.00 WIB dan sesi ke dua dimulai pukul 17.00 dan berakhir pukul 05.00 WIB.

Kebijakan ini menurut Roni Tardianto yang mewakili ibunya ke LO DIY kurang transparan dan belum tersosialisasi dengan baik.

Saat pedagang dihadapkan pada pilihan untuk berdagang sesi satu atau sesi dua, menurut Roni, pedagang tiba tiba langsung diberi surat pernyataan bermaterai oleh pengurus Papela.

Merasa belum mendapatkan penjelasan dan sosialisasi yang diinginkan, ada beberapa pedagang termasuk ibunya yang menolak menandatangani surat pernyataan bermaterai tersebut.

Baca: Tambah Jam Operasional, Pemkot Tidak Ingin Wisatawan Kecele Saat ke Beringharjo

"Kami sudah coba meminta penjelasan kepada pengurus dan dinas tapi jawabannya kami diminta mengikuti saja kebijakan yang baru. Untuk itu kami bersepakat menyampaikan keluhan dan keberatan kami pada Ombudsman DIY atas apa yang kami rasakan. Kami ingin transparan itu saja," ujar Roni.

Lanjut Roni, para pedagang yang ikut mengadu ke Ombudsman hari ini adalah mereka yang sepakat untuk kembali ke kebijakan lama yakni berjualan tanpa ada pembagian sesi.

Pasalnya mereka selama ini sudah bersepakat secara tidak tertulis membagi waktu antara pedagang yang berjualan dari pagi sampai sore dan sore sampai malam.

"Kami tak masalah misalnya  harus membayar retribusi untuk shift dua. Sementara ini kami akan ikuti kebijakan baru sambil menunggu respon dari dinas pasar soal keberatan kami," ujar Roni.

Roni menambahkan, persoalan lain yang dikhawatirkan terjadi adalah adanya pedagang baru yang tiba tiba menempati lapak pedagang anggota Papela tanpa sosialisasi terlebih dahulu.

Sebab hal ini pernah terjadi sebelum kebijakan baru pembagian dua sesi berdagang ini. Ada dua pedagang baru tiba tiba menempati lapak Papela.

Halaman
123
Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved