Pati Obong, Tradisi Bakar Diri Para Janda untuk Mati Terhormat

Sati atau Pati Obong adalah ritual yang telah dipraktikkan secara luas sejak abad ke-17 di India

Tayang:
Editor: Mona Kriesdinar
IST
Ilustrasi ritual pati obong 

Salah satu cerita terkenal mengenai pati obong ini adalah Angling Dharma dan istrinya, Setyawati.

Setyawati merasa tersinggung dengan tingkah suaminya dan meragukan kasih sayang dari Angling Dharma.

Menurut Setyawati, melakukan pati obong akan mengembalikan kehormatan dan harga dirinya.

Setyawati lalu bersumpah untuk melakukan Pati Obong pada hari ke 14 saat malam bulan purnama.

Angling Dharma juga memutuskan untuk menemani Setyawati dan mereka akan melakukan pati obong bersama.

Tapi, Angling Dharma malah mengingkari janjinya dan tidak ikut terjun ke dalam api saat istri tercintanya telah luruh menjadi abu.

Pati obong juga terkadang dilakukan karena ingin membuktikan sesuatu yang benar, seperti dalam kisah Rama dan Shinta.

Di India, tradisi ini telah dilarang oleh pemerintah kolonial Inggris sejak tahun 1859.

Tapi masih dipraktikkan secara sembunyi-sembunyi dibeberapa daerah bagian India.

Pemerintah India juga melarang hal ini dan akan menghukum siapapun yang masih memaksa para wanita ini untuk ikut dibakar bersama mayat suaminya.

Di Indonesia sendiri pernah mencatat peristiwa Pati Obong terbesar pada tahun 1691.

Saat itu, Raja Blambangan, Pangeran Tawang Alun II meninggal dan akan dikremasi.

Pangeran Tawang Alun II memiliki 400 istri.

Dari 400 istri itu, 270 di antaranya melakukan Pati Obong dan ikut dibakar dalam upacara kremasi Pangeran Tawang Alun II.

Ternyata bukan hanya Romeo dan Juliet yang punya kisah cinta tragis, tapi Pangeran Tawang Alun II juga. (*)

Berita ini sudah tayang di INTISARI dengan judul Tradisi Pati Obong, Saat Para Janda Membakar Diri Untuk Menjaga Kehormatannya

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved