Lipsus Penataan Malioboro

Penataan Malioboro Wujudkan Kota Manusiawi

penataan ini sebenarnya ini sudah dicanangkan dalam rencana umum tata ruang tahun 1985, Malioboro ingin dijadikan sebagai satu modal sekaligus model

Penataan Malioboro Wujudkan Kota Manusiawi
TRIBUNJOGJA.COM / Bramasto Adhy
Kawasan Malioboro Yogyakarta, Selasa (10/4/2018). 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Sudaryono, Pakar Perencanaan Tata Kota UGM mengatakan, langkah pemerintah membuat kawasan Malioboro menjadi semipedestrian menurutnya sudah tepat.

Itu bisa menjadi langkah untuk membuat Kota Yogya menjadi kota yang humanis.

"Seperti kita ketahui, pada zaman dahulu Yogya dikenal sebagai kota perjumpaan manusia dari berbagai latar belakang dan juga merupakan pusat peradaban Jawa yang banyak sekali menjadi rujukan kota-kota lain. Sebagai contoh, lesehan dan angkringan. Dan juga budaya ruang publik saya rasa berasal dari Yogya juga," katanya, pekan lalu.

Sehingga, lanjutnya, memang kalau itu (Malioboro) dibuat semipedestrian, prioritasnya tentu saja untuk manusia.

Sudaryono mengungkapkan, penataan ini sebenarnya ini sudah dicanangkan dalam rencana umum tata ruang tahun 1985, Malioboro ingin dijadikan sebagai satu modal sekaligus model pembangunan kota yang manusiawi.

"Waktu itu ada semacam persetujuan dengan Menteri Purnomo Sidi bagaimana kalau Malioboro dijadikan modal dan model pembangunan kota yang manusiawi. Sekarang inilah wujud kelanjutan dari persetujuan tersebut," paparnya.

Menurut Sudaryono, ini yang mesti diperhatikan betul oleh pemerintah kota maupun provinsi dalam membangun Malioboro di masa mendatang.

Pasalnya, ada dua konsep yang sekarang bermain di Malioboro. Pertama, melihat Malioboro sebagai jalan, atau yang kedua melihat Malioboro sebagai ruang. Ini masih tarik-menarik ini antara jalan dan ruang.

"Saya pribadi akan lebih setuju kalau ke depannya Malioboro itu sebagai jalan, jalan bagi kendaraan tak bermotor seperti andong, becak, dokar, dan sepeda. Ini tentu akan mempertegas predikat Malioboro sebagai kota yang humanis," ulasnya.

"Saran saya pemerintah harus tegas melihat Malioboro dominannya sebagai ruang untuk manusia lalu kemudian sebagai jalan untuk kendaraan tak bermotor. Ini tentu selaras dengan konsep pembangunan Malioboro yang dicanangkan sejak tahun 1985," tutupnya.(TRIBUNJOGJA.COM)

Penulis: sis
Editor: Ari Nugroho
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved