Mesin Laundry Karya Anak Bantul Rambah Negara Tetangga

Sejak menjalankan usaha dari tahun 2008, mesin laundry Kanaba mulai merambah pasaran ekspor, satu di antaranya ke Timor Leste.

Mesin Laundry Karya Anak Bantul Rambah Negara Tetangga
TRIBUNJOGJA.COM / Victor Mahrizal
Founder Kanaba, Ashari di pabrik PT Hari Mukti Teknik di Jalan Wonosari Km 8,5 Pandangan, Sitimulyo Piyungan Bantul. 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Victor Mahrizal

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL – Sejak menjalankan usaha dari tahun 2008, mesin laundry Karya Anak Bantul, Kanaba mulai merambah pasaran ekspor, satu di antaranya ke negara tetangga Timor Leste.

Dari markas Kanaba di Piyungan Bantul, populasi produk Kanaba sudah menyebar mulai dari Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, Banten, Jakarta, Bali dan Nusa Tenggara, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi serta Bangka Belitung.

“Kanab mulai masuk negara tetangga dengan diterimanya produk kami untuk mendukung fasilitas RSU Pusat Dili, Timor Leste,” kata Founder Kanaba, Ashari, Jumat (6/4/2018).

Produk-produk besutan Kanaba yang didominasi oleh mesin  cuci dan pengering, kata Ashari banyak digunakan oleh para pelaku usaha dan korporasi semisal jasa laundry, dry cleaning, waralaba, rumah sakit, pabrik garment, dan perhotelan.

Ashari mengaku kapasitas produksi PT Hari Mukti Teknik (HMT) di pabriknya yang berada di Piyungan Bantul Yogyakarta memang masih terbatas.

Dengan 50 tenaga kerja yang rata-rata merupakan lulusan STM hanya mampu memproduksi sekitar 50 produk baik mesin cuci, setrika dan pengering.

“Sebagai pabrik yang tengah berkembang dan memperluas pasar, produksi kami masih terbatas, hanya berdasarkan by order itu pun kami sudah kewalahan,” ungkapnya.

Meski demikian untuk untuk memenuhi standar produksi pada Mei 2015, Kanaba berhasil memperoleh Sertifikasi SNI-ISO di bawah bimbingan Badan Standarisasi Nasional (BSN) dan diuji oleh Balai Besar Bahan dan Barang Teknik (B4T).

Hanya meskipun sudah mengantongi SNI, kata Ashari, mesin laundry merek Kanaba, masih kesulitan menembus pasar instansi pemerintahan.

Hal itu karena Kanaba belum masuk dalam elektronik katalog (e-katalog) Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP).

“Kondisi itu menyebabkan calon konsumen kami seperti rumah sakit pemerintah takut melakukan pembelian, ketika nominal pembelian lebih dari Rp200 juta,” ujarnya.

Untuk saat ini Kanaba sedang berusaha mendapatkan rekomendasi agar produk mesin laundry itu bisa masuk e-katalog.

Harapnya, dalam waktu tidak lama Kanaba sudah bisa masuk e-katalog.

“Untuk masuk e-katalog prosesnya perlu rekomendasi kabupaten/ kota, kemudian bupati/ wali kota, dan gubernur, selanjutnya ke LKPP. Semoga produk-produk Kanaba bisa segera masuk e-katalog,” harapnya.(tribunjogja.com)
 

Penulis: vim
Editor: Gaya Lufityanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved