Wabup Bantul: Cacing Tidak Seharusnya Ada di Ikan Kaleng

Secara lugas, wabup melihat hal tersebut seharusnya tidak boleh terjadi kaitannya dengan pelayanan konsumen.

Wabup Bantul: Cacing Tidak Seharusnya Ada di Ikan Kaleng
net
Ilustrasi 

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Wakil Bupati Bantul, Abdul Halim Muslih ikut angkat bicara terkait ditemukannya cacing dalam beberapa produk ikan kaleng berjenis makarel.

Secara lugas, wabup melihat hal tersebut seharusnya tidak boleh terjadi kaitannya dengan pelayanan konsumen.

"Karena cacing seharusnya tidak masuk bahan yang dikemas dalam produk itu. Yang dijual adalah produk ikan kaleng. Bukan produk olahan cacing. Jadi hanya ikan yang boleh ada dalam kaleng, bukan cacing yang ikut ada di dalam kaleng," kata Abdul Halim, Rabu (4/4/2018).

Meskipun hasil penelitian menteri kesehatan yang menyatakan cacing tidak berbahaya ketika sudah dimasak (termasuk melalui ikan kaleng) bahkan mengandung protein tinggi dipandang tidak salah, namun Halim memandang perlu adanya pemahaman dari sudut pandang yang lain.

Abdul Halim membuat perumpamaan, produk roti tapi di dalam roti itu ada ubi atau cabai, tentu tidak bisa dibenarkan meski cabai dan ubi tidak berbahaya bagi tubuh.

Hal ini kaitannya dengan pelayanan konsumen, bahwa produk yang dijual harus sesuai dengan bahan produk itu sendiri.

Baca: Bahayakah Cacing di Kaleng Sarden? Begini Kata Menteri Kesehatan

Abdul Halim melihat perlu ada solusi jitu menyelesaikan masalah ini agar tidak menimbulkan distorsi sosial.

"Tak perlu menutup usaha pengalengan ikan karena akan mematikan industri dan banyak pekerja yang kehilangan pekerjaan, yang terpenting kualitas kontrol produk," katanya.

Dikutip dari Tribunnews, fenomena cacing dalam ikan kaleng diawali dari sebuah video penemuan cacing dalam produk ikan kaleng di Kepulauan Riau.

Melihat efek ada keresahan masyarakat, Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia ( BPOM RI) turun tangan.

Hasilnya, ditemukan setidaknya 27 produk ikan kaleng yang terbukti terdapat cacing di dalamnya.

Instruksi menyetop produksi ikan kaleng pun dikeluarkan ke beberapa perusahaan pengolahan ikan kaleng yang masuk dalam daftar berbahaya salah satunya karena keberadaan cacing. (TRIBUNJOGJA.COM)

Penulis: sus
Editor: Ari Nugroho
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved