UNY Mengukuhkan Siti Irene Astuti Sebagai Guru Besar Sosiologi Pendidikan

Prinsip kualitas dan kesetaraan yang menjadi dasar pokok bagi pembangunan pendidikan harus diatasi secara komprehensif.

UNY Mengukuhkan Siti Irene Astuti Sebagai Guru Besar Sosiologi Pendidikan
istimewa
Siti Irene Astuti Dwiningrum dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam Bidang Sosiologi Pendidikan pada Fakultas Ilmu Pendidikan, Rabu (4/4/2018). 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Universitas Negeri Yogykarta mengukuhkan Siti Irene Astuti Dwiningrum sebagai Guru Besar dalam Bidang Sosiologi Pendidikan pada Fakultas Ilmu Pendidikan, Rabu (4/4/2018).

Siti Irene Astuti Dwiningrum adalah guru besar UNY ke-136, dan dalam rapat terbuka Senat ia mengemukakan pidatonya yang berjudul Penguatan Modal Sosial Dan Resiliensi Sekolah Dalam Mengatasi Ketimpangan Mutu Pendidikan di Abad Ke-21.

Menurutnya, sampai hari ini ketimpangan mutu pendidikan masih terjadi di Indonesia, sementara tantangan pendidikan di abad ke-21 harus dihadapi.

Menurutnya dengan tingkat mutu yang relatif rendah pada berbagai jenjang pendidikan, akan sulit bagi bangsa Indonesia untuk berkompetisi menghadapi tantangan pendidikan di abad ke-21.

Prinsip kualitas dan kesetaraan yang menjadi dasar pokok bagi pembangunan pendidikan harus diatasi secara komprehensif.

Ia mengatakan, ketimpangan mutu pendidikan terjadi karena adanya kelas sosial.

Maka pendekatan komprehensif untuk mengurangi disparitas sosial dan kesenjangan sosial-ekonomi harus diupayakan oleh negara dengan pendekatan struktural dan kultural.

"Ketimpangan mutu pendidikan dapat diatasi lebih baik, jika solusi negara tidak bersifat parsial tetapi secara sistemik dan berkelanjutan dengan pendekatan politik-ekonomi- sosial dan budaya untuk mewujudkan hak warga bersekolah dan mendapatkan pendidikan berkualitas," ujarnya.

Dilanjutkannya, pendidikan di abad ke-21 yang memiliki prinsip kualitas dan kesetaraan membutuhkan peran sekolah dan peran guru yang berkualitas.

"Resiliensi sekolah menghasilkan sekolah berkualitas. Cara berpikir orang memperbaiki kualitas cenderung tidak sama, bahkan ada kecenderungan makna ‘kualitas’ masih menjadi perdebatan sosial sehingga pikiran untuk memperbaiki kualitas akan berbeda," terangnya.

Menurutnya, guru yang berkualitas terbentuk oleh sekolah yang memiliki resiliensi yang kuat.

Tingkat Resiliensi juga dapat menunjang keberhasilan sekolah dalam menerapkan berbagai kebijakan baru.

Sedangkan diterangkannya, resiliensi guru berkembang dengan baik jika budaya sekolah mampu mengembangkan tujuh aspek guru.

Tujuh aspek guru tersebut yakni regulasi emosi, kontrol impuls, empati, optimisme, analisis kausal, self-efficacy, dan reaching out, yang kesemuanya sebagai modal pengembangan capacity building sekolah dan professional capacity.

Sebaliknya, guru mesti memiliki prinsip kerja berkualitas berdasarkan prinsip well-being, belonging, autonomy, mastery, dan mindset dalam mengajar di kelas dengan untuk mengembangkan pembelajaran berbasis inovasi.(*)

Penulis: Santo Ari
Editor: Gaya Lufityanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved