Pertahankan Bangunan Tradisional, Desa Penglipuran di Bali Ini Dijuluki Desa Terindah Se-Indonesia

Desa bernama Penglipuran ini menjelma sebagai tempat wisata yang kerap didatangi wisatawan baik dari dalam dan luar negeri.

Penulis: rid | Editor: Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM / Pradito Rida Pertana
Suasana Desa Penglipuran yang berada di Kecamatan Bali, tampak beberapa bangunan rumah di Desa tersebut masih mengusung nuansa tradisional dan mempertahankan nuansa adat Bali yang kental. Tampak pula, beberapa tanaman yang memenuhi depan rumah setiap warga dan membuat suasana semakin asri dan tentram. 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Dewasa ini, khususnya memasuki era globalisasi yang kental dengan nuansa modern, banyak desa yang merubah bentuk model bangunannya dan tak sedikit pula yang melepaskan unsur adat yang melekat pada desa-desa tersebut.

Nuansa desa yang asri, bersih dan sejuk juga jarang ditemui saat ini, kendati demikian ada sebuah desa di Pulau Bali yang masih mempertahankan keasrian, kebersihan dan tidak merubah bentuk bangunan yang sarat dengan unsur adatnya.

Bahkan dari mempertahankan hal tersebut, sebuah Desa bernama Penglipuran ini menjelma sebagai tempat wisata yang kerap didatangi wisatawan baik dari dalam dan luar negeri.

Tak hanya itu, desa yang berada di bagian utara pulau dewata ini mendapat julukan sebagai satu di antara desa terindah dan terbersih di Indonesia.

Tribunjogja.com pun berkesempatan mengunjungi Desa Penglipuran, adapun perjalanan ke Desa yang masuk Kelurahan Kubu, Kecamatan Bangli, Kabupaten Bangli, Bali ini memakan waktu yang tidak sebentar.

Adapun waktu yang harus ditempuh untuk mencapai Desa tersebut sekitar 2-3 jam perjalanan darat dari Kuta, Badung, Bali.

Sesampainya di Bangli kontur jalan akan semakin menanjak, hal ini dikarenakan desa tersebut berada di ketinggian 700 mdpl.

Beberapa meter sebel sampai ke Desa Penglipuran disuguhkan pemandangan pohon bambu yang berada di pinggir jalan menuju desa tersebut.

Ya, memang untuk mencapai Desa Penglipuran diharuskan melewati kawasan hutan bambu terlebih dahulu.

Sesampainya di pintu masuk Desa Penglipuran, pemandangan berbeda pun tampak dari jarangnya sepeda motor yang melintas kawasan tersebut, suasana tentram, nyaman, bersih dan kental akan budaya Bali pun terasa saat memasuki Desa tersebut.

Hawa dingin pun menyelimuti Desa tersebut diiringi hembusan angin yang sepoi-sepoi.

Tak seperti Desa wisata lain, sejauh mata memandang, di Desa Penglipuran sama sakali tidak ditemukan adanya sampah yang berserakan atau menumpuk di satu tempat.

Selain itu, di sepanjang jalan desa tersebut juga dipenuhi tanaman yang menambah suasana asri.

Bentuk bangunan rumah warga juga masih sangat tradisional dan jauh dari kesan modern saat ini.

Dijelaskan Made Mulyana (45), seorang pemandu wisata bahwa nama Desa Penglipuran berasal dari akronim kata pengeling dan pura yang berarti mengingat tempat suci.

Diungkapkannya pula bahwa masyarakat yang mendiami desa tersebut kebanyakan berasal dari Desa Bayung Gede, Kintamani, yang bermigrasi permanen karena suatu hal ke Desa Kubu Bayung, yang kini menjadi Desa Penglipuran.

Pria berkulit hitam ini melanjutkan kisahnya, bahwa Desa Penglipuran telah ada sejak abad ke-16.

Disinggung mengenai mengapa desa tersebut begitu bersih ia menilai karena warga sadar akan tempat tersebut merupakan tempat suci yang harus dijaga kebersihan dan kelestariannya.

"Memang kebersihan lingkungan diutamakan di Desa ini, itu (menjaga kebersihan) sudah berlangsung lama dan merupakan inisiasi dari penduduk Desa itu sendiri," katanya, Selasa (27/3/2018). (*)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved