Dari Mana Asal Usul Lingga-Yoni? Ini Kisah Serunya dari India

Cerita tentang Yoni jumbo yang berselimut semak belukar di gudang alat berat PU Berbah, Sleman, sepertinya memantik rasa penasaran publik.

tribun Jogja/ Setya Krisna Sumargo
Pembersihan semak penutup Yoni jumbo di gudang PU Berbah Sleman 

TRIBUNJOGJA.COM - Cerita tentang Yoni jumbo yang berselimut semak belukar di gudang alat berat PU Berbah, Sleman, sepertinya memantik rasa penasaran publik.

Ada banyak begitu pertanyaan muncul.

Mulai dari mana asal usul Yoni itu, di mana Lingganya, bagaimana bisa Yoni itu nongkrong di antara rongsokan truk operasional PU?

Staf Seksi Penyelamatan Benda Cagar Budaya BPCB DIY, Yoses Tanzaq berjanji akan memeriksa catatan instansinya.

Ia yakin Yoni itu sudah masuk daftar inventaris.

"Inventaris sudah, namun teregistrasi atau belum, saya cek besok karena data ada di kantor," kata Yoses kepada Tribunjogja.com, Senin (19/3/2018) malam ini.

Riwayat Yoni itu masih gelap.

Para pegawai di gudang PU angkat tangan, sama sekali buta cerita.

Mereka yang tahu pun sudah pensiun, bahkan mungkin sudah tutup usia.

Kita akan telusuri besok "siapa" Yoni jumbo di gudang PU ini.

Sekarang kita simak cerita besar tentang Yoni dan Lingga sebagai simbol pusat spiritual penganut Siwa.

Ahli sejarah J.J Ras dalam bukunya merunut cerita tentang Lingga dan Yoni jauh ke pedalaman India.

Kisahnya bertautan dengan pengembaraan Siwa dan Parwati di Taman Kunjara.

Gunung Kunjara dalam epos Ramayana adalah tempat kediaman resi Agastya.

Di India selatan, resi ini dianggap sebagai  pembawa peradaban brahmana.

Cerita di hutan Dewadaru dalam Dewadaruwana-mahatmya menjadi dasar teoligis kultus Lingga di India, dan jadi titik awal tradisi "dewa raja" di Indonesia, Thailand, Vietnam, Kamboja dan lain-lain.

Tradisi ini mengakui kekuasaan raja datang dari dewa tertinggi.

Dalam Dewadaruwana-mahatmya dikisahkan Siwa terpisah dari Parwati, istrinya saat jalan-jalan di hutan Dewadaru.

Ketika sampai di sebuah pertapaan, Siwa berubah wujud jadi rahib pengemis yang telanjang.

Tak disangka, para istri pertapa terpesona dan bahkan tergila-gila melihat cakap wajah rahib pengemis telanjang itu.

Para pertapa marah dan mendatangkan kutuk agar lingga (phallus) sang rahib jatuh.

Saat itu juga lingga jatuh menusuk bumi, tembus ke dunia bawah.

Sang rahib juga jatuh ke lubang dan tertidur pulas.

Dewa Wisnu dan Brahma melihat peristiwa ini ketakutan, khawatir dunia bisa hancur karena mereka tahu rahib itu Siwa yang utama.

Maka datanglah mereka, membujuk rahib itu agar mengambil kembali lingganya.

Rahib itu setuju tapi minta syarat agar dewa-dewa dan para brahmana menyembah lingga itu.

Syarat disetujui.

Sang rahib alias Siwa itu mengambil kembali lingganya.

Sebuah lingga emas kemudian didirikan di Hittakeswara k'setra (lapangan suci) oleh para brahmana.

Para brahmana memberi petunjuk siapa saja yg membangun lingga akan menemukan jalan tertinggi dalam hidup.

Sejak itulah Lingga atau phallus selalu didirikan di tempat terpenting bangunan-bangunan suci Siwa, bersama Yoni sebagai pasangan sejatinya.

Sebagai simbol puncak Siwa-Parwati, Lingga-Yoni juga ditafsirkan sebagai simbol harmoni, kerukunan, kesuburan, dan cinta sejati.

Lingga dan Yoni dalam konteks tertentu, misalnya upacara penetapan sima, juga menempati posisi sangat penting.

Kedua simbol itu harus ada.

Epigraf Dr Riboet Darmosutopo menjelaskan dalam upacara suci penetapan sima, ada dua elemen utama yang dinamai sang hyang watu lumpang dan sang hyang watu taes.

"Sang Hyang Kelumpang atau Watu Lumpang itu ya Yoni. Sedangkan Sang Hyang Watu Taes itu Lingga. Keduanya berfungsi penting," kata Riboet kepada Tribunjogja.com.

Menurut Riboet,  Sang Makudur yang memimpin upacara penetapan sima, saat menyebutkan kutukan akan bersamaan menyembelih kepala ayam bertelenan watu lumpang.

"Sedangkan telor akan dipecahkan ke Watu Taes. Itu pesan dan simbol bahwa siapa yang melanggar kutuk akan menerima hukuman seperti nasib ayam dan telor itu," urai Riboet.

Lebih dari itu, sebagai simbol puncak Siwa, Lingga dan Yoni akan menempati bilik-bilik utama bangunan pemujaan Siwa.

Satu dari tiga Yoni jumbo di wilayah Yogyakarta yang dilengkapi Lingga, saat ini ada di Candi Ijo.

Yoni dan Lingga jumbo di Candi Ijo
Yoni dan Lingga jumbo di Candi Ijo (tribun Jogja/ Setya Krisna Sumargo)

Sedangkan dua Yoni tanpa Lingga, selain di gudang PU Berbah, ada di halaman kantor BPCB DIY Bogem, Kalasan, Sleman.

Yoni jumbo dari Polangan, Sumberejo, Prambanan
Yoni jumbo dari Polangan, Sumberejo, Prambanan (tribun Jogja/ Setya Krisna Sumargo)

Yoni cantik seberat tiga ton ini ditemukan 2 Agustus 2010 di Dusun Polangan, Sumberejo, Prambanan, Sleman.(Tribunjogja.com/xna)

Penulis: Setya Krisna Sumargo
Editor: Hari Susmayanti
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved