Orang Jepang Rela Bayar Supaya Bisa Meluapkan Tangisan

Dikenal dengan rui-katsu atau ‘pencari air mata’, bisnis ini populer di kalangan perempuan

Orang Jepang Rela Bayar Supaya Bisa Meluapkan Tangisan
Huffington Post
Ilustrasi 

TRIBUNJOGJA.COM - Meskipun ada beberapa binatang yang bisa meneteskan air mata, tetapi pada manusia, tangisan emosional dianggap sebagai salah satu aktivitas yang unik. Terlepas dari alasan di baliknya, mengekspresikan emosi dengan cara menangis, baik untuk kesehatan.

Di Jepang, pengusaha Hiroki Terai menjadikan hal tersebut sebagai peluang bisnis. Ia adalah pendiri perusahaan yang menyediakan jasa ‘menangis’. Bersama timnya, Terai mengajak orang lain untuk meluapkan tangisannya dan menyediakan pria tampan untuk menghapus air mata mereka.

Dikenal dengan rui-katsu atau ‘pencari air mata’, bisnis ini populer di kalangan perempuan yang ingin meredakan tingkat stresnya. Dalam film pendek Crying with the Handsome Man, Darryl Thoms, pembuat film ini, mengeksplor keunikan dan mencari tahu mengapa Terai yakin bisnisnya ini bisa mendekatkan banyak orang.

Suatu hari, Thoms membaca sebuah artikel tentang perusahaan yang mengirim pria-pria tampan untuk menghapus air mata perempuan Jepang. Mereka dikenal dengan Ikemeso Takkyubin atau Pengantar Tangisan.

Setelah mencari informasi, Thoms menemui pemilik perusahaan tersebut, yakni Hiroki Terai. Terai memberikan izin kepada Thoms untuk merekam salah satu sesi terapi menangisnya, yang dipimpin oleh pria tampan bernama Ryeui-san.

“Ryeui merupakan seorang penyanyi dan pemain samisen (alat musik tradisional Jepang) yang sangat tampan. Ia juga telah mempelajari efek penyembuhan dari menangis,” papar Thoms.

Budaya menangis

Bagi mereka yang tinggal di negara Barat, praktek menangis ini terlihat tidak biasa – bahkan dianggap aneh. Namun, bagi beberapa budaya, menunjukkan kesedihan atau marah adalah sesuatu hal yang tabu. Menangis dianggap sebagai tindakan yang tidak dewasa. Oleh sebab itu, emosi harus ditekan, bahkan dilenyapkan.

Faktanya, menurut poling yang dilakukan oleh International Study on Adult Crying, orang-orang Jepang adalah yang paling jarang menangis dibandingkan penduduk dari 37 negara lain.  

Ketika ditanya apa alasannya mendirikan bisnis jasa tersebut, Terai mengatakan, ia melihat adanya kebutuhan konseling pasangan Jepang yang baru saja mengalami perceraian. Salah satu cara mengatasi kesedihannya adalah dengan air mata.

Halaman
12
Editor: mon
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved