Pemulung Berebut dengan Tikus Dapatkan Makanan Sisa Restoran untuk Diolah Jadi Makanan 'Mewah'

Pemulung yang sebelumnya hanya tertarik pada logam dan plastik, sekarang fokus pada makanan sisa dan kadaluarsa.

Pemulung Berebut dengan Tikus Dapatkan Makanan Sisa Restoran untuk Diolah Jadi Makanan 'Mewah'
Capture BBC
Pemulung memunguti makanan sisa dari tempat sampah 

TRIBUNJOGJA.COM - Kehidupan di daerah kumuh di Manila bisa sangat sulit, bisa setiap hari melihat makanan yang tersaji di meja adalah suatu dambaan. 

Itulah mengapa, makanan yang bernama pagpag ini begitu populer. 

Pagpag sebenarnya istilah untuk debu yang terlepas dari pakaian atau karpet. 

Tapi di daerah kumuh tersebut, ini berarti daging yang dipungut dari tempat pembuangan akhir, dimasak, dan menjadi makanan berharga. 

Dading dicuci sebelum dimasak
Dading dicuci sebelum dimasak ()

Pagpag telah lama menjadi makanan pokok warga yang tinggal di pemukiman kumuh Filipina, namun dalam beberapa tahun terakhir ini juga menjadi bisnis yang menguntungkan.  

Pemulung yang sebelumnya hanya tertarik pada logam dan plastik, sekarang fokus pada makanan sisa dan kedaluarsa. 

Daging ini berasal dari restoran makanan cepat saji dan supermarket, mereka bersaing dengan kucing liar dan tikus untuk mendapatkanya dari tempat pembuangan akhir. 

Sekantong daging pagpag biasanya dijual oleh pemulung seharga sekitar 20 peso atau sekitar Rp5300 kepada pemilik warung di pemukiman tersebut. 

Pemulung memunguti makanan sisa dari tempat sampah.
Pemulung memunguti makanan sisa dari tempat sampah. ()

Pemilik warung akan mengolahnya menjadi berbagai hidangan dan menjualnya seharga 10 peso setara Rp2600 untuk satu porsi. 

Pertama-tama daging dicuci untuk membuang sampah yang mungkin menempel, dan tulang-tulangnya dipisahkan.  

Halaman
12
Editor: dik
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved