Tanaka Tumbuhkan Pisang dari Masa Lalu Demi Kenangan

Penuh cinta Setsuzo Tanaka menghabiskan waktunya selama 40 tahun terakhir untuk menyempurnakan teknik menumbuhkan pisang Mongee ini.

Tanaka Tumbuhkan Pisang dari Masa Lalu Demi Kenangan
IST
Setsuzo Tanaka (68) dari Prefektur Okayama yang telah menghabiskan waktunya selama 40 tahun terakhir untuk menyempurnakan teknik menumbuhkan pisang Mongee ini. 

TRIBUNJOGJA.COM - Pisang mongee (diucapkan 'mon-gay' dan berarti 'menakjubkan') memiliki kulit yang bisa dimakan yang diklaim rasanya seperti sayuran dan memiliki tekstur seperti selada.

Pisang ini telah menjadi usaha penuh cinta bagi Setsuzo Tanaka berusia 68 tahun dari Prefektur Okayama yang telah menghabiskan waktunya selama 40 tahun terakhir untuk menyempurnakan teknik menumbuhkan pisang Mongee ini.

Bibit-bibit pisang dibekukan, kemudian dicairkan dan ditanam kembali, dimana perusahaannya, D & T Farm, menyebut metode ini sebagai "freeze-thaw awakening".

Menurut D & T Farm, proses tersebut membuat tanaman tumbuh dengan cepat, memotong proses budidaya tanaman pisang yang biasanya memerluka waktu dua tahun menjadi hanya enam bulan saja.

Pisang matang dengan cepat, menyebabkan kulitnya tipis, lentur dan dapat dimakan.

Setsuzo Tanaka dan pisang Mongee
Setsuzo Tanaka dan pisang Mongee ()

Akar di masa lalu

Pisang Mongee dikembangkan dari varietas pisang Gros Michel, yang kemungkinan merupakan jenis pisang yang biasa dikonsumsi sebelum tahun 1950-an.

Ini adalah varietas pisang utama dalam yang beredar secara global sejak awal 1900-an sampai tahun 1950an, ketika perkebunan di Amerika Tengah musnah oleh penyakit layu fusarium yang menjadi lebih dikenal sebagai penyakit Panama.

Jenis yang lebih baru dari penyakit yang bersumber dari jamur yang ditularkan melalui tanah, Panama TR4, sekarang mempengaruhi tanaman pisang Cavendish Australia.

Keinginan Setsuzo Tanaka untuk menumbuhkan pisang Gros Michel tropis di iklim dingin Jepang didorong oleh kenangannya sendiri saat kecil memakan pisang tersebut ketika pisang di saat buah yang satu ini masih digolongkan sebagai makanan mewah.

Halaman
12
Editor: iwanoganapriansyah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved