Lebih dari Motif, Tiap Batik Punya Cerita

GKR Bendara mengajak masyarakat untuk menyaksikan pameran batik dengan tema Cerita Di Balik Goresan Canting pada 26 Februari hingga 4 Maret 2018.

Lebih dari Motif, Tiap Batik Punya Cerita
TRIBUNJOGJA.COM / Kurniatul Hidayah
GKBRAy Paku Alam ketika menunjukkan satu di antara koleksi batik Puro Pakualaman bermotif Indra Widagdo didampingi GKR Bendara. 

Ia menegaskan bahwa terdapat dua motif yang akan ditampilkan dari keseluruhan koleksi batik tersebut yakni parang dan kawung.

Sementara itu GKBRAy Paku Alam juga mrnyuguhkan batik-batik koleksi Puro Pakualaman yang merupakan batik buatannya dan diadaptasi dari kitab-kitab kuno.

"Contohnya Astabrata. Suami saya (KGPAA Paku Alam X) yang membuat kitabnya, saya batiknya. Itu tentang kepemimpinan di mana setiap pemimpin wajib memiliki 8 sifat tersebut. Filosofinya luar biasa," bebernya.

Selain itu, Permaisuri Paku Alam X tersebut pun membeberkan fenomena di lapangan bahwa batik Yogyakarta sudah semakin tergerus.

"Di Beringharjo, hanya 30 persen batik Yogyakarta. Sisanya batik luar, misalkan Pekalongan, Solo, dan sebagainya," ungkapnya.

Ia menjelaskan, setidaknya ada empat motif besar batik Yogyakarta yakni parang, semenan, ceplok purbonegoro, dan nitik.

"Motif Nitik ini yang hampir punah karena pembatiknya sudah jarang sekali. Sentranya ada di Wukirsari," bebernya.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Bidang Taman Pintar Yogyakarta, Afia Rosdiana mengatakan bahwa tujuan acara ini tidak hanya mengenalkan corak batik di Keraton dan Puro Pakualaman, tapi mengenalkan bahwa di dalam corak ada cerita dan falsafah.

"Taman Pintar ini merupakan Science Center yang di Indonesia jumlahnya ada 13. Tapi di Yogyakarta, Taman Pintar jug mengedapankan local wisdom," urainya.(*)

Penulis: Kurniatul Hidayah
Editor: Gaya Lufityanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved