Para Peneliti Australia dan Indonesia Kembangkan Vaksin Rotavirus

Rotavirus adalah virus yang menyebabkan diare, mungan dan dehidrasi terutama pada bayi dan anak kecil.

Para Peneliti Australia dan Indonesia Kembangkan Vaksin Rotavirus
TRIBUNJOGJA.COM / Noristera Pawestri
Suasana jumpa pers Penelitian Vaksin Rotavirus di FK UGM, Kamis (22/2/2018). 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Noristera Pawestri

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Para peneliti Australia dan Indonesia bekerjasama daIam pengembangan Vaksin  Rotavirus yang diberikan pada bayi saat lahir.

Rotavirus adalah virus yang menyebabkan diare, mungan dan dehidrasi terutama pada bayi dan anak kecil.

Virus ini penyebab utama dari diare berat diantara anak-anak di bawah usia 5 tahun diseluruh dunia.

Untuk itu, peneliti-peneliti dari Murdoch Children's Research Institute (MCRI) telah mengembangkan vaksin rotavirus yang memberikan perlindungan lebih awal dari diare yang manyebabkan dehidrasi pada bayi dan anak kecil.

Peneliti Utama Rotavirus, dr Jarir At Thobari PhD menuturkan, hasil penelitian vaksin yg dikembangkan bersama Australia dan Indonesia ini sudah selesai pada fase 2B.

"Penelitian dimulai tahun 2012 dan selseai 2016.Persiapan sejak 2010 itu melakukan training, pengemebangan dokumen. Kita melakukan rekrutmen 2013 dan penelitian selesai 2016," papar Jarir, Kamis (22/2/2018).

Jarir melanjutkan, penilitian ini mentargetkan pada bayi yang baru lahir dan menargetkan sebanyak 25 puksesmas dan rumah sakit yang ada di Klaten dan Sleman.

"Sebanyak 1.649 bayi diberi dosis vaksin dan diikuti apakah mengalami diare, jika diare dicek karena virus atau tidak diikuti sampai usia 18 bulan," lanjutnya.

Pihaknya juga telah melakukan survey kepada masyarakat dan hasilnya belum banyak masyarakat yang tahu diare tinggi disebabkan oleh Rotavirus.

"Kita juga memberikan edukasi untuk bisa memberikan informasi ke masyarakat penyebab diare pada balita dan penularan rotavirus itu bisa terjadi," ujarnya pada awak media.

Ia menambahkan, hasil dari penelitian ini sangat baik dan mampu melindungi bayi selama satu tahun pertama sebesar 94% dan 75% perlindungan pada usia 18 bulan.

"Sekitar 96% bayi usia sampai 18 bulan masih ikut terus dalam penelitian ini. Dan keberhasilan penelitian sangat baik," imbuhnya. (*)

Penulis: Noristera Pawestri
Editor: Gaya Lufityanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved