Advertorial

Nani Sukmawati: 'Hanya Pintar, Bukan Jaminan Sukses'

Seorang anak kira-kira berusia 6 tahun tampak berdiri di depan gerbang sekolah. Kepalanya sesekali menengok ke kanan

Nani Sukmawati:  'Hanya Pintar, Bukan Jaminan Sukses'
Shutterstock
ilustrasi 

Seorang anak kira-kira berusia 6 tahun tampak berdiri di depan gerbang sekolah. Kepalanya sesekali menengok ke kanan dan ke kiri. Ia menunggu jemputan dari orang tuanya. Ternyata mereka terlambat menjemput. Saat mereka sampai, si anak tidak menyebutkan bahwa ia marah, tapi ia menujukkan sikap tidak bersahabat. Ia cemberut, mulai memukul ibu dan enggan masuk ke dalam mobil. Untuk sekian waktu, orang tuanya menjelaskan alasan keterlambatan mereka yang memang tidak disengaja. Si anak tetap bersikukuh tidak mau naik ke mobil, walau bujukan dengan iming-iming imbalan sudah diberikan.

Beberapa orang yang tidak jauh dari situ tampak memperhatikan si anak dan orang tuannya. Tentu saja membuat orang tua anak tersebut merasa malu. Akhirnya setelah kesekian kali dibujuk dengan iming-iming yang lebih besar, si anak mau melangkah masuk ke mobil walau dengan wajah tetap cemberut. Apakah masalah selesai ?

“Jika solusi yang ditargetkan adalah si anak masuk ke mobil, maka solusi sudah didapat. Namun bagi saya, ada masalah baru yang muncul pasca kejadian itu,” kata Nani Sukmawati, Manajer INERSIA, sebuah lembaga yang berfokus kepada perndampingan Pengembangan Karakter Personal yang ada di gedung IONs di jalan C Simanjuntak 50 Yogyakarta.

Apa masalahnya?

Nani berpendapat bahwa ada hal yang terabaikan dalam pembentukan karakter anak yang harus menjadi perhatian orang tuanya. Hal tersebut adalah tentang menyelesaikan masalah tanpa marah-marah,menggunakan kata-kata dan bukan pukulan, dan menghentikan amarah tanpa sogokan. Si Anak masih belum bisa mendengarkan penjelasan dari orang tuanya dan bersikukuh dengan egonya .

Apa yang ia perbuat menimbulkan dampak bagi dirinya dan orang lain, seperti bertambah lamanya mereka menuju tujuan selanjutnya setelah dari sekolah, orang sekitar menonton mereka, munculnya rasa malu orangtuanya dan lain lain.

Bagi Nani, ini adalah masalah tentang pembentukan karakter anak. Orang tua sebagai "Guru alami” si anak harus peka dengan hal ini. Masa usia anak adalah masa pembentukan karakter. "Ketidaktahuan "orangtua tentang pembentukan karakter bisa menyebabkan masalah bagi perkembangan anak di kemudian hari.

Ilustrasi
Ilustrasi (Shutterstock)

Anak dapat mengendalikan emosi,atau menegosiasikan keinginannya dengan orang lain adalah contoh karakter yang perlu dikembangkan. Jika tidak dibekali ketrampilan ini, akan timbul konflik yang menghambat perkembangan sosial dan psikologis anak dan pada akhirnya akan menurunkan kualitas hidup si anak.

Pendampingan pengembangan karakter pada anak perlu dimulai sejak dini.Pada usia 4 -18 tahun, umumnya terjadi di rumah dan sekolah, namun tidak terstruktur dengan baik. Padahal World Economic Forum (2016), telah mengingatkan bahwa ada 16 hal yang seharusnya dimiliki anak di abad 21 ini agar bisa survive. “ Kira-kira baru 6 hal Fundational Literacies ( Literacy, Numeracy, Scientif, ICT Literacy, Financial Litercy, Culture and Civil Literacy) yang baru diterima anak dari kebutuhan 16 hal tadi,” tutur Nani.

Disinilah peran INERSIA. Nani mengungkapkan bahwa INERSIA bertindak melengkapi kekurangan pengembangan karakter yang tidak diterima di sekolah secara terstruktur yakni Competencies (Critical Thingking/problem solving, Creativity, Communication, Collaboration) dan Character Qualities (Curiosity, Initiative,Persistence,Leadership, Social and Cultural Awareness). “Kami membantu anak-anak selepas jam sekolah untuk mendampingi mengembangkan mental mereka secara personal dan terstruktur melalui program,” jelasnya.

Ia mempersilakan orangk tua yang menginginkan informasi lebih lanjut tentang program ini dengan datang ke gedung IONs jalan C Simanjutak 50 Yogyakarta atau menghubungi nomornya di 085 743 073 080.

Nani bercerita bahwa ada seorang siswa yang dikenal pintar oleh guru dan teman-temannya. Namun karena sikapnya yang selalu ingin menjadi nomor satu dalam semua hal, ia kesulitan bergaul dengan teman-temannya sehingga ia sering menyendiri. Kondisi ini berpengaruh kepada prestasinya. Ia tidak bersemangat belajar dan prestasinya menurun. “ Ini adalah salah satu contoh saja. Kecerdasan bias menunjang prestasi namun bisa juga menjadi batu sandungan.”kata Nani . (adv)

Editor: Iwan Al Khasni
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved