Memahami Humblebragging, Pamer Terselubung Berkedok 'Ngeluh' Hingga Pura-pura Syukur Padahal Pamer

Humblebragging atau Pamer Terselubung adalah sikap pamer yang kerap kali disamarkan dengan sikap lainnya, misalnya berupa keluhan

Penulis: Mona Kriesdinar | Editor: Mona Kriesdinar
IST
Pamer Terselubung atau Humblebragging 

TRIBUNJOGJA.COM - Media Sosial (Medsos) tak hanya menjadi jaringan yang menghubungkan relasi pertemanan. Medsos juga bukan hanya sekadar menjadi media berbagi informasi maupun bertukar kabar. Disadari atau tidak, medsos juga menjadi media yang mengasyikan untuk narsis, memperlihatkan sisi positif diri sendiri. Bahkan tak sedikit pula yang menjadikannya sebagai media pamer.

Ada diantaranya yang pamer secara terang-terangan. Namun tak sedikit pula yang pamer secara terselubung. Misalkan dengan membuat status berisi ungkapan rasa syukur padahal aslinya ingin memamerkan sesuatu.

Atau ada pula yang pamer berkedok keluh kesah. Semisal "Duh pusing banget milih sepatu mana yang cocok buat ke pesta".
Sekilas terlihat seperti keluhan, padahal di sisi lain bisa saja ia hanya ingin memperlihatkan bahwa koleksi sepatunya banyak.

Bagaimana memahami fenomena pamer terselubung ini?

Dalam sebuah studi yang dilakukan oleh Harvard Business School, pamer terselubung yang dibungkus keluhan diketahui jauh lebih buruk dibandingkan dengan mereka yang pamer secara blak-blakan.

Dikutip dari Mail Online, seseorang jauh lebih menerima mereka yang secara terang-terangan pamer, daripada yang tak jujur dengan cara membungkusnya dengan kemasan lain.

Adapun dalam istilah lainnya, pamer terselubung ini disebut Humblebrag.

Yakni sikap menyombongkan diri secara terselubung. Seseorang yang melakukan humblebrag biasanya mengatakan suatu kalimat yang saling bertolak belakang dengan niat aslinya. Kalimat atau ungkapannya seolah merendah tentang suatu hal yang membanggakan tapi tujuan sebenarnya adalah untuk mendapatkan perhatian,” kata psikolog Vera Itabiliana, Psi, sebagaimana dikutip TRIBUNJOGJA.COM dari NOVA.

Ciri-ciri psikologis seorang pelaku humblebrag biasanya terlihat dari kalimat yang diucapkan, bagaimana dia menceritakan sesuatu yang secara berulang terus-menerus, tapi dengan nada merendah.

Dalam percakapan misalnya, seseorang mengatakan, “Akhirnya, udah pulang ke Jakarta. Capek juga liburan seminggu di Singapore.”

“Humblebrag juga bisa terlihat dari postingan di media sosial nya dimana biasanya dia mengungkapkan rasa syukur, tapi dengan memamerkan suatu hal yang berlebihan,” sambung Vera.

Seperti, posting-an yang menunjukkan lelahnya menyetrika pakaian setumpuk namun di foto yang sama tampak juga gadget terbaru yang tergeletak di atas meja. Tentu saja hal ini dapat mencuri perhatian atau komentar mereka yang melihatnya. Entah meledek, memuji, atau bisa jadi nyinyir.

Nah, alasan karena ingin dianggap penting juga hebat serta ingin diperhatikan itulah yang menjadi salah satu alasan seseorang bersikap humblebrag.

Yang lucu, “Dampak yang dirasakan pelaku humblebrag apabila tidak direspons, ia akan semakin berusaha untuk terus diperhatikan, bisa semakin sering melakukan humblebrag atau mencari komunitas lain yang dapat memberikannya perhatian,” jelas Vera.

Lalu adakah manfaatnya bersikap humblebrag untuk diri kita?

“Tentu tidak, karena sombong bukan hal yang positif. Alangkah lebih baik apabila sikap sombong dan humblebrag ditinggalkan, karena sikap tersebut dapat menimbulkan rasa benci dalam diri orang lain,” saran Vera. 

Bagaimana menurut kamu menyikapi humblebragging? Isi polling berikut ini :

Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved