Istri Gus Dur: Hidup Gus Dur untuk Merajut dan Merawat Perbedaan Kebudayaan di Indonesia

Bagi Gus Dur, kebudayaan merupakan cermin dasar dari kemanusiaan, artinya manusia akan bisa meletakkan harkat dan martabat kalau dia berkebudayaan.

Istri Gus Dur: Hidup Gus Dur untuk Merajut dan Merawat Perbedaan Kebudayaan di Indonesia
TRIBUNJOGJA.COM / Tantowi Alwi
Sinta Nuriyah di acara Ziarah Budaya Sewindu Haul Gus Dur bertempat di Auditorium Driyarkara Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Senin (5/2/2018) malam. 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Ziarah Budaya Sewindu Haul Gus Dur digelar di Auditorium Driyarkara, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, Senin (5/2/2018) malam.

Sinta Nuriyah, istri Presiden Keempat Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, turut hadir dalam acara tersebut.

Saat memberikan sambutan, ia mengucapkan terimakasih kepada para panitia karena telah memperingati Sewindu Haul Gus Dur ini.

"Tahun 2017 kemarin, Gus Dur telah meninggalkan kita selama 8 tahun," kata Sinta Nuriyah dalam sambutannya.

Ia menuturkan sebagaimana lazimnya setiap haul yakni dibacakan tahlil, istighosah, dan salawat nabi.

Namun, pada perkembangannya ternyata Haul Gus Dur tidak hanya melakukan hal itu, tetapi pada perkembangannya menjadi ziarah budaya.

"Berkembang menjadi ziarah budaya, ini saya bisa maklumi. Karena semasa hidupnya, sebagian besar hidup Gus Dur untuk merajut dan merawat perbedaan kebudayaan yang ada di Indonesia," kata Sinta.

Menurutnya, bagi Gus Dur, kebudayaan merupakan cermin dasar dari kemanusiaan, artinya manusia akan bisa meletakkan harkat dan martabat kalau dia berkebudayaan.

"Sebaliknya, kalau manusia tidak berkebudayaan artinya sama dengan hewan," lanjutnya.

Dalam upaya untuk merajut, merawat, dan menjaga berbagai macam kebudayaan, Gus Dur selalu lakukan seperti berdialog, berinteraksi berkomunikasi, baik verbal melalui forum dialog, seminar, sarasehan, obrolan ringan, santai.

"Ada juga melalui tulisan di media massa, atau di buku, bahkan Gus Dur melakukan juga dengan lagu ciptaannya sendiri," ujarnya.

Sinta mengatakan yang lebih menarik dari Gus Dur adalah yaitu kemampuan Gus Dur untuk mendamaikan bermacam-macam perbedaan.

Kesabaran Gus Dur untuk merawat berbagai perbedaan kebudayaan yang ada di Indonesia begitu besar.

"Tidak hanya kebudayaan besar dan mayoritas, tetapi kebudayaan yang kecil atau minoritas, bahkan kebudayaan yang dianggap sudah tidak ada gunanya lagi," kata Sinta.

"Indonesia punya budaya yang adiluhung harus kita rawat sebaik-baiknya," ujarnya. (*)

Penulis: Tantowi Alwi
Editor: Gaya Lufityanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved