Terguncang-guncang, Runtuh, Ditinggalkan, Candi Kedulan Kemudian Tertimbun Lahar Merapi
Candi Kedulan pernah terdampak gempa hebat yang membuat bagian-bagian candi rusak berat.
Penulis: Setya Krisna Sumargo | Editor: Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Candi Kedulan di Desa Tirtomartani, Kalasan, Sleman, kini sedang dipugar.
Akhir tahun 2018, ditargetkan candi induk sudah berdiri.
Tahap berikut pemugaran tiga candi perwaranya disusul penataan lansekap.
Pemugaran dilakukan tim Balai Pelestari Cagar Budaya (BPCB) DIY sejak 8 Januari 2018, menggunakan dana APBN sebesar Rp 2,8 miliar.
Informasi ini disampaikan Kepala Seksi Pelestarian BPCB DIY, Wiwit Kasiyati, di kantornya pekan lalu.
Apa istimewanya situs kuno Hindu ini? Kapan dibangun? Oleh siapa? Mengapa terkubur begitu dalam saat ditemukan?
Sederet pertanyaan itu membawa Prof Subagyo Pramumijoyo dan tim UGM menelisik situs itu dari sisi geologinya.
Kesimpulannya, Candi Kedulan pernah terdampak gempa hebat yang membuat bagian-bagian candi rusak berat.
Jejak gempa dahsyat ratusan tahun lalu itu terlihat dari bagian kaki candi yang bergelombang ekstrem.
Sedangkan bagian kemuncak candi runtuh berserakan.
"Gempa yang membuat candi itu kemudian tak dipakai, sebelum tertimbun lahar Merapi. Proses tertimbunnya berkali-kali dari berbagai arah," kata Subagyo.
Guru besar Fakultas Teknik UGM ini menyebut gempa bumi tektonik ini sangat signifikan.
Banjir lahar Merapi adalah faktor berikutnya yang menenggelamkan candi.
"Bagi saya, Kedulan ini istimewa sebagai pembelajaran bidang geologi dan kebencanaan. Seharusnya situs ini dipertahankan keasliannya untuk edukasi publik," lanjut Subagyo.
Menurut Subagyo, persentase keutuhan artefak Candi Kedulan di atas 85 persen, dengan kondisi fisik batuan yang masih sangat bagus.
Singkapan di dinding situs yang terbuka juga menunjukkan jejak faktual perlapisan material yang unik.
"Ada setidaknya tiga belas (13) perlapisan material dari permukaan hingga kaki candi," lanjutnya.
Selama katakanlah 250 tahun sejak candi itu dibangun pada 869 Masehi hingga ditemukan 1993, ketebalan lapisan material di lokasi mencapai lebih kurang 8 meter.
"Bayangkan saja setebal itu perlapisannya dari Merapi. Kita bisa menilai dan sekaligus belajar dari sejarah kebencanaan masa silam," ujar pakar yang kerap dilibatkan dalam penelitian situs arkeologi ini.
Teori gempa dahsyat sebagai penyebab ditinggalkannya Candi Kedulan sejalan dengan temuan penelitian Dr Ir Sri Mulyaningsih dari IST Akprind.
Ahli geologi yang mendapatkan gelar doktornya dari hasil meneliti candi-candi yang terkubur material vulkanik Merapi, juga menunjuk temuan kaki candi yang bergelombang.
Tak hanya itu, Sri Mulyaningsih menemukan arca dan bebatuan candi terlempar lima meter dari posisinya.
Namun, ia menemukan indikasi material lahar pernah menerjang candi sebelum terkena gempa.
Selain itu, Sri Mulyaningsih meyakini situs itu telah digunakan sejak periode abad 3-6.
Bangunan candi kuno itu berdiri di selatan posisi candi induk yang sekarang dipugar.
Hasil pentarikhan menggunakan uji karbon, material ini terkubur endapan pyroclastic surge dalam tiga lapisan.
Masing-masing dibatasi lapisan tipis paleosol atau semacam tanah dari masa purba.
Masing-masing endapan berusia 1445 tahun, 1175 tahun, dan 1060 tahun yang lalu.
Candi kemudian direnovasi abad 8/9, namun tertimbun lagi sebelum digali 940 tahun lalu.
Jejaknya ada di kaki candi sisi tenggara.
Sesudah terkena gempa dahsyat, candi ditelantarkan hingga terkena sapuan awan panas pada 1285 Masehi.
Permukaan Kedulan naik hingga halaman dalam yang selanjutnya tumbuh pohon aren dan jokong.
Tunggul pohon ini ditemukan di halaman dalam candi, sesuatu yang tidak lazim ada di bangunan peribadatan suci masyarakat Hindu.
Sejak itu secara berulang-ulang Candi Kedulan di sebelah timur laut Candi Sambisari itu tertimbun lahar dalam enpat periode.
Yaitu 1587 M (360+/-50 yBP, 240+/-50 yBP, 200+/-50 yBP, dan waktu yang belum diketahui pada lapisan fluvium teratas).
Kassubag TU BPPCB DIY, Indung Pancaputra, yang pernah terlibat ekskavasi awal Candi Kedulan ketika ditemukan, memastikan situs itu memang layak dan sudah siap dipugar.
"Batuan dan ornamen kelengkapannya 90 persen sudah teridentifikasi. Semua masih asli, termasuk patung-patung pengisi relung di empat sisi candi induk," kata Indung.
Namun proyek pemugaran ini masih menyisakan problem cukup krusial secara teknis.
Pertama, ada lahan yang masih belum terbebaskan terkait penataan keseluruhan.
Kedua, masalah hidrologi.
Air baik dari permukaan maupun dari sumber di bawah ini perlu penanganan ekstra.
"Ini sedang dicarikan solusi oleh pakar sipil yang dilibatkan," lanjutnya.
Posisi candi yang lebih kurang 8 meter dari permukaan sekitar yang berupa sawah, saluran irigasi, dan sungai kecil di sebelah barat, membuat situs ini rawan dibanjiri air.
Kepala Seksi Pelestarian BPCB DIY, Wiwit Kasiyati menjelaskan, pemugaran Candi Kedulan meliputi unsur bangunan dan tata lingkungan sekitar situs secara keseluruhan.
"Target 2020 komplek bangunan candi sudah bisa kita tampakkan. Berikutnya pengembangan melibatkan pihak terkait, terutama Pemkab Sleman," imbuhnya.(Tribunjogja.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/candi_20180205_084520.jpg)