TRIBUNJOGJATV ONLINE

Perkenalkan! Liontin Evangelina Setiawan, Pebalap Internasional Berprestasi Asal Yogyakarta

Liontin Evangelina Setiawan. Kini dia menghadapi event pada pertengahan februari ini di Malaysia dan beberapa negara di Asia

Memiliki orang tua mantan atlet sepeda nasional tampaknya tak menjadikan Liontin Evangelina Setiawan bercita-cita menjadi atlet serupa. Namun ibarat pepatah, buah jatuh tak jauh dari pohonnya tampaknya tepat untuk menggambarkan perjalanan remaja 18 tahun ini.

TAK pernah berpikir untuk menjadi atlet sepeda namun kini dirinya malah menjadi atlet sepeda internasional dengan segudang prestasi.

Dirinya bahkan mendapatkan undangan oleh Union Cycliste Internationale (UCI), untuk mengikuti pelatihan tingkat internasional di World Cycling Center, Aigle, Swiss.

Prestasi itu merupakan prestasi yang cukup bergengsi karena dirinya menjadi atlet Indonesia pertama yang mendapatkan kehormatan diundang untuk mengikuti pelatihan tanpa harus membayar di pusat pelatihan bergengsi bagi para atlet balap sepeda dari seluruh dunia itu.

Namun tak disangka, raihan sederet prestasinya tersebut dimulai dari obesitas dan hobi makan yang ia miliki waktu kecil.

Rupanya obesitas dan suka makan menjadi alasan kuat akhirnya dirinya menjadi seorang atlet sepeda hingga sekarang.

"Dulu aku nggak suka maen sepeda, ntar hitam," papar perempuan berambut panjang ini.

"Tapi waktu aku gemuk, aku itu capek dikit jantung suka sakit jadi nggak boleh makan sembarangan sama orangtua," lanjutnya.

Lantaran hal tersebut orang tua Angel sapaan akrab perempuan ini mulai dikenalkan dengan olahraga sepeda meski harus diiming-imingi makanan.

"Terus dajak sepedaan sama papah, ke arah pakem itu ada ayam goreng enak banget jadi itu motivasiku mau sepedaan sampai atas," jelas penggemar Atlet inggris Laura Troot ini.

Mulai terbiasa dengan olahraga sepeda dirinya akhirnya dipaksa mengikuti lomba sepeda di daerah Wonosari sekira akhir tahun 2015 lalu.

"Ada lomba di Wonosari terus aku diiming-imingin sama mamah, kalau mau start aja nanti dapat eskrim ya sudah akhirnya ikut dan dapat juara satu dari belakang," jawabnya dengan tawa.

Mulai terbiasa dengan perlombaan sepeda akhirnya Angel mulai serius menekuni olahraga sepeda ini sejak tahun 2016 setelah dirinya sukses masuk pelatda dan meraih medali di ajang nasional.

"Baru mulai aku rutin latihan seminggu dua kali," paparnya.

Hingga kini dirinya memperoleh beragam prestasi yang cukup membanggakan Indonesia di dunia balap sepeda internasional.

Tak semulus yang dibayangkan prestasinya juga penuh dengan jalan berliku. Dirinya harus ditempa dengan berbagai porsi latihan yang cukup berat.

"Biasa kalau latihan jauh itu sampai 180 km, sehari bisa dua kali," jelasnya kepada tribunjogja.com.

Porsi latihan berat dan ringan hampir tiap hari ia jalani untuk meningkatkan performa dan kemampuan dari atlet asal Yogyakarta ini.

Tak jarang dalam latihan dirinya bersepeda dari Yogyakarta hingga Tawangmangu, Karanganyar dan beberapa daerah di sekitar Yogyakarta mulai Wonosari, Pakem hingga Purworejo.

Bahkan dirinya juga sempat mengalami kecelakaan saat berlatih maupun berlomba dalam ajang resmi. Dirinya sempat jatuh dan mendapat luka di daerah pelipis dan muka. Tak hanya itu dirinya juga pernah mendapatkan jahitan di lutut kanannya karena jatuh dan mengenai gerigi dari sepeda tersebut.

Kini perempuan yang telah menyelesaikan sekolah menengah atasnya ini tengah berfokus untuk menghadapi event pada pertengahan februari ini di Malaysia dan beberapa negara di Asia. "Event terdekat ada Malaysian track kelas elit diatas 19 tahun," jawab perempuan keturunan China Papua ini. (*)

Penulis: Wahyu Setiawan Nugroho
Editor: iwe
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved