Kenapa Generasi Millenial akan Sulit Punya Rumah?
Pada tahun 2025 pertumbuhan penduduk Indonesia akan mencapai sekitar lebih dari 68 persen tinggal di perkotaan
TRIBUNJOGJA.COM -Sebelum membaca judul yang sama di suatu media cetak, saya sukanegative thinking dengan judul yang sangat provokatif atau kadang-kadang kurang merasa tidak berpihak kepada generasi milineal. Loh saya bukan dari generasi milineal tapi saya suka banget melihat cara kerja generasi milenial yang super kreatif dalam dunia digital.
Tapi setelah baca dengan teliti, dan menghitung dengan saksama saya sadar sekali bahwa betapa fakta yang menyatakan bahwa generasi milenal memang sulit sekali untuk mendapatkan sebuah rumah yang layak huni itu benar adanya.
Sejak 2015 Indonesia diberikan berkah dengan bonus demografi di mana jumlah penduduk Indonesia sebesar 261,8 juta, 176,8 juta adalah penduduk usia generasi milenial. Generasi milenial yang lahir pada tahun sekitar 1980-1999.
Survei Bank Dunia menunjukkan bahwa pada tahun 2025 pertumbuhan penduduk Indonesia akan mencapai sekitar lebih dari 68 persen tinggal di perkotaan, dibandingkan dengan tahun 2014 hanya sebesar 52 persen.
Dari survei yang diadakan oleh Litbang Kompas kepada generasi milenial dengan pertanyaan "Apakah Anda menganggap hunian sebagai barang primer?" Ternyata jawabannya hampir 60-80% menyatakan "penting". Pergeseran kebutuhan Generasi Milineal ini telah dipantau oleh Kompas juga untuk menilai hunian jenis apa yang diinginkan oleh generasi milenial yang lahir tahun 1980-1999. Ternyata pilihan mereka adalah apartemen yang memiliki kemudahan akses transportasi, dan tidak perlu banyak bayar kewajiban biaya layanan bulanan yang dihitung luas unit, memiliki kelayakan bangunan. Hunian masa depan bagi generasi milenial adalah serba praktis dan dikejar waktu, fasilitas internet untuk akses informasi.
Dengan adanya generasi milenial tinggal di kota, kebutuhan primer mereka adalah tempat tinggal. Tempat tinggal yang sekarang ini dibangun di tengah kota-kota besar ternyata sangat mahal dibandingkan dengan gaji yang diperoleh generasi milenial.
Katakan untuk rumah kecil atau apartemen yang paling minimalis di tengah kota, harganya minimum 400 juta per unit. Sementara gaji generasi milinial di Jakarta 34 persen berpenghasilan Rp4-Rp7 juta per bulan, 14 persen berpenghasilan Rp7 juta-Rp12 juta per bulan, dan hanya 6 persen berpenghasilan Rp12 juta ke atas.
Untuk mencicil atau mengangsur harga rumah, minimum diperlukan Rp3-4juta per bulan.Nach dengan gaji dari struktur generasi milineal seperti di atas tentunya tidak memenuhi syarat untuk mendapatkan rumah di Jakarta.
Pilihan lain agar dapat membeli rumah adalah dengan membeli rumah subsidi oleh pemerintah seperti rumah susun yang jauh lebih ringan. Sementara yang tidak menginginkan rumah susun, dapat memilih rumah di pinggiran kota yang agak miring dibandingkan di dalam kota. Sebagai contoh untuk rumah di pinggiran Kota Semarang, Jawa Tengah, yang membeli dengan cara kredit sebesar Rp300 juta dengan membayar uang muka sebesar Rp30 juta - Rp50 juta.
Tiap bulan mereka harus menyisihkan sebesar Rp3 juta untuk cicilan. Sebagian untuk membayar uang muka pun mereka harus mengumpulkan uangnya selama empat-lima tahun kerja atau bahkan ada yang pinjam uang dari orang tua. Konsekuensi dari pemilihan rumah di pinggiran kota adalah dengan jarak yang jauh dari tempat kerja, biaya tambahan untuk transportasi. Ada juga yang setelah punya rumah di pinggiran kota, merasa tidak nyaman untuk pulang pergi ke kantor dari rumah yang jauh. Lalu terpaksa mengambil apartemen atau kos di tengah kota yang jaraknya lebih dekat dengan kantor. Hal ini tentu menambah beban biaya dua kali lipat.
Adalah Brilliant Johan (36) seorang karyawan dari BUMN di Surabaya, membeli rumah di Mojokerto yang berjarak 50 Km dari Surabaya. Jarak yang jauh itu harus ditempuh lebih lama sekitar 60-90 menit di jalan dan penuh perjuangan untuk kemacetan.
Sayangnya, pentingnya pilihan beli rumah bagi generasi milineal itu tak disadari penuh. Mereka ada yang berpikir lebih baik "mumpung" masih muda, uangnya dipakai untuk jalan-jalan. Nanti setelah puas baru mereka baru memikirkan untuk beli rumah.
Ketika mereka tiba-tiba merencanakan untuk menikah dan kebutuhan untuk membeli rumah mendesak, mereka baru mengatur keuangan dan ternyata apa yang ditangan tidak mencukupi untuk membayar DP rumah bahkan mencicil pun tak mencukupi.
Apabila mereka berpikir panjang, waktu yang terbuang 10 tahun yang lalu harga rumah di pasar masih sekitar Rp400 juta, tetapi dengan adanya inflasi tiap tahun sebesar 20%, maka setelah 10 tahun harga rumah menjadi naik 200% sekitar Rp1.2 milyar. Sedangkan, kenaikan gaji untuk 10 tahun itu tidak sebanding dengan kenaikan harga rumah. Kenaikan gaji rata-rata pertahun antara sekitar 6-10%. Jauh sekali perbedaannya. Lalu bagaimana mengejarnya dan bagaimana jalan ke luarnya untuk mendapatkan rumah yang diidamkan itu.
Oleh karena itu generasi milineal jangan sekali-kali menunda untu beli rumah, jika dana untuk DP sudah mencukupi, maka sebaiknya untuk coba untuk mencari rumah sesuai dengan dana yang dimiliki. Pengalaman saya pun demikian, rasanya untuk beli rumah itu sakit sekali karena tiap bulan harus dipotong hampir l/3 dari gaji. Untuk bulan-bulan pertama hingga menunggu kenaikan gaji lagi adalah masa tersulit karena semua kebutuhan hidup harus diatur dengan ketat sekali.
Setiap kesulitan tentunya ada solusinya, nach generasi milineal yang kebutuhan primernya adalah hunian atau rumah di mana sangat sulit untuk memilikinya, sebaiknya hidup dengan sangat bijak.
"Berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian". (Ina Tanaya/Kompasiana)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/ilustrasi-tabungan-rumah_20180201_223630.jpg)