Mantan Gubernur Kalteng: Rasa Kesatuan Harus Dipatri Dalam Sanubari
Para panitia acara juga turut mengundang Agustin Teras Narang yang merupakan Gubernur Kalimantan Tengah (Kalteng) periode 2005-2015.
Penulis: Tantowi Alwi | Editor: oda
Laporan Reporter Tribun Jogja, Tantowi Alwi
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Himpunan Pelajar Mahasiswa Kalimantan Tengah (HPMKT)-Yogyakarta menggelar Perayaan Natal dan Doa Bersama untuk Bangsa di Gedung Grand Pelita, Yogyakarta, Selasa (30/1/2018).
Para panitia acara juga turut mengundang Agustin Teras Narang yang merupakan Gubernur Kalimantan Tengah (Kalteng) periode 2005-2015 serta mantan Presiden Majelis Adat Dayak Nasional untuk mengisi ceramah kebangsaan.
Teras Narang mengatakan dirinya memilih tema kepemimpinan untuk disampaikan pada acara tersebut, hal ini karena masalah kepemimpinan begitu melekat bagi Indonesia.
"Kepemimpinan itu ada Pancasilanya, ada UUD 1945, ada Bhinneka Tunggal Ika-nya, ada di NKRI-nya. Saya anggap ini merupakan forum berbagi, saya punya pengalaman dan mencoba untuk menyampaikan bagaimana nilai-nilai kepemimpinan, yang memang dikehendaki oleh bangsa ini," kata Teras Narang kepada tribunjogja.com.
Ditambahkannya, Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang majemuk karena terdiri dari macam-macam suku, agama, dan kekayaan ribuan bahasa, sehingga perlu disadari bahwa kepemimpinan juga saling terkait dengan nilai kebersamaan serta saling mencintai.
Soal banyaknya polemik masyarakat yang saling mengumbar narasi kebencian, Teras Narang mengatakan semua itu kembali kepada diri masing-masing.
"Kalau kita mulai dari lempar senyum, kan pasti kita enggak benci, itu mulai dari diri kita. Kalau kita menunjuk orang lain, tiga jari ini juga menunjuk diri kita sendiri, balik ke kita dulu deh. Jadi senyum, sapa, salam itu bagian dari kebersamaan," tuturnya.
Lebih lanjut, Teras menuturkan memperbaiki keadaan bangsa itu bukan dari orang lain, tetapi dari diri kita sendiri.
"Apalagi sekarang saya bersyukur di acara ini ada bapak pendeta, ada para mahasiswa dari latar belakang berbeda-beda, ada yang Muslim, Kristen, tetapi kita satu," kata Teras Narang.
"Rasa kesatuan inilah yang harus dipatri dalam sanubari kita, jangan cari bedanya, kalau beda pasti beda, tapi yang dilihat itu apa sih kebersamaan kita yaitu cinta kasih," pungkasnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/suasana-perayaan-natal-dan-doa-bersama-untuk-bangsa-di-gedung-grand-pelita-yogyakarta_20180130_171509.jpg)