Perlunya Rasa Percaya untuk Hindarkan Ibu dari Mom-Shaming

Namun dalam perjalanan menjadi seorang ibu, terlebih ibu yang baru saja memiliki buah hati, tentu akan menghadapi hal-hal yang baru.

Penulis: Amalia Nurul F | Editor: Ari Nugroho

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Menjadi ibu tentu merupakan pengalaman berharga bagi setiap wanita.

Merawat dan membesarkan buah hati dengan penuh kasih sayang tentu menjadi hal yang tak ternilai harganya.

Namun dalam perjalanan menjadi seorang ibu, terlebih ibu yang baru saja memiliki buah hati, tentu akan menghadapi hal-hal yang baru.

Dalam menghadapi hal yang baru tersebut, para ibu tentu membutuhkan dukungan dari suami dan orang-orang terdekat.

Akan tetapi tak dimungkiri, para ibu pasti mendapat kritik dari orang-orang di sekitarnya soal merawat anak dan hal lainnya.

Kritik atau perkataan tersebut biasa disebut mom-shaming.

Seperti yang dialami oleh Anissa Faricha (25), ibu muda ini mengungkapkan bahwa dirinya pun tak terhindar dari mom-shaming.

Terlebih saat kehamilan putri pertamanya.

Baca: Disebut Sebagai Angelina Jilid 2, Kematian Gadis Cilik Ini Diduga Akibat Kekerasan Ibu Kandungnya

"Mom-shaming ini saya sadarnya belum lama. Ya meliputi perkataan orang-orang pada saya yang jadi ibu baru. Seperti perkataan, kok anaknya nggak begini, anaknya nggak begitu, dan sebagainya," tutur perempuan yang akrab disapa Icha ini.

Icha pun merasakan, awalnya perkataan dari orang-orang di sekitarnya tersebut memang ia anggap sebagai motivasi untuknya.

Namun lama kelamaan, Icha pun sempat merasa down karena hal tersebut.

"Niatnya baik karena memberi motivasi. Tapi karena pada saat hamil hormon juga mungkin kurang seimbang, mom-shaming ini membuat saya sempat baby blues juga," jelas Icha.

"Mendengar perkataan seperti itu nggak enak juga. Meski awalnya nggak terlalu nanggepin. Tapi komentar orang juga akan berhenti," sambungnya.

Mom-shaming banyak Icha dengar dari tetangga hingga keluarga terdekatnya.

Menurut Icha, kadang orang merasa lebih bisa atau lebih baik dalam pengetahuan soal mengasuh anak.

"Kami sebenarnya tidak perlu itu. Zaman sekarang akses informasi sudah terjangkau, kami para ibu juga sudah lebih mudah untuk belajar dengan cara kami sendiri," tutur ibu dari seorang putri berusia 8 bulan ini.

Baca: 3 Tahun Setelah Dibunuh, Baru Ketahuan Otak John F Kennedy Ternyata Hilang Misterius Hingga Sekarang

"Kadang ada juga yang menjadikan bahan bercandaan. Padahal menurut saya parenting ini kurang pas untuk dijadikan bahan bercanda. Bagaimanapun seorang ibu pasti ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya," ungkap Icha.

Hal serupa juga pernah dialami oleh Anisa Meila.

Pada masa kehamilannya, Anisa juga pernah mengalami mom-shaming.

"Iya saya juga pernah diomongi sama orangtua-orangtua kalau salah-salah gitu," kata Anisa. "Itu lumayan bikin baper," imbuh Anisa.

Namun Anisa lebih memilih untuk tak terlalu memedulikan hal tersebut.

"Reaksinya kadang tak jawab kadang tak biarin aja," tutur ibu dari putri yang berusia 20 bulan ini.

Hal yang paling dibutuhkan bagi para ibu ini sejatinya tidaklah rumit. Icha mengatakan dirinya hanya membutuhkan rasa percaya terhadap dirinya dari orang-orang di sekitarnya. "Saya bisa dipercaya merawat anak saya sendiri, itu saja," kata Icha.(TRIBUNJOGJA.COM)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved