Seniman Sujud Kendang Tutup Usia
Sosok Seniman Sujud Kendang di Mata Cak Nun
Cak Nun menuturkan, sosok Pak Sujud adalah contoh nyata kearifan lokal yang tidak bisa dibandingkan dengan seniman lain.
Penulis: Yudha Kristiawan | Editor: Muhammad Fatoni
Laporan Reporter Tribun Jogja, Yudha Kristiawan
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Sujud Sutrisno, seniman yang menghabiskan sebagian besar hidupnya di jalanan meninggal dunia, Senin (15/1/2018) kemarin siang di usia 64 tahun.
Perjuangannya melawan sakit batu empedu yang dideritanya sejak lama akhirnya terhenti.
Dari rumah duka di Jetis Badran Yogyakarta, terlihat para kerabat dan beberapa seniman asal Yogyakarta datang untuk memberikan penghormatan terakhir.
Satu di antaranya adalah seniman Emha Ainun Najib alias Cak Nun, yang datang mengenakan pakaian serba hitam ke rumah duka.
Cak Nun menuturkan, sosok Pak Sujud adalah contoh nyata kearifan lokal yang tidak bisa dibandingkan dengan seniman lain.
Di mata budayawan gondrong ini, sosok Sujud adalah seniman yang memiliki keunikan menonjol.
Caranya memainkan kendang bagi Cak Nun menjadikan cara berkesenian Sujud sesuai namanya "Sujud".
"Beliau diberi keistimewaan dari Tuhan. Di setiap kelompok masyarakat selalu ada sosok seperti beliau. Kalau di Surabaya ada Markesot almarhum, di Yogya ada Pak Sujud," ujar Cak Nun pada Tribunjogja.com, Selasa (16/1/2018).
Di mata Cak Nun, Sujud adalah sosok yang njawani. Meskipun menurut Cak Nun saat membawakan lagu lagu ada syairnya yang nakal.
Saat ini, di rumah duka, dipimpin Pendeta Naftali Simson dari GKII Badran dilakukan ibadah pelepasan jenazah dan akan dilanjutkan upacara pemakaman di makam Utara Laya, Tompeyan Tegalrejo Yogyakarta. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/pemakaman-sujud-kendang_20180116_104810.jpg)