Sisi Lain Makam Banyusumurup

Roro Oyi, Kisah Tragis Gadis Surabaya di Tangan Amangkurat I

Ada empat tiang pipa besi mengelilingi pusara yang konon beberapa tahun lalu direhab seorang juragan teh terkenal.

Roro Oyi, Kisah Tragis Gadis Surabaya di Tangan Amangkurat I
Tribun Jogja/ Setya Krisna Sumargo
Pusara Roro Oyi di makam Banyusumurup, Girirejo, Imogiri. Roro Oyi jadi korban pertikaian tragis antara Sunan Amangkurat I dan Putra Mahkota pada masa 1668-1669. 

Keadaan itu didengar kakeknya, Pangeran Purbaya, yang begitu menyayangi pangeran muda itu. Dalam silsilah Mataram, Pangeran Purbaya ini adalah kakak Sultan Agung, yang berarti paman dari ayahnya, Sunan Amangkurat I.

Purbaya kemudian mendatangi rumah Ngabei Wirarejo, memaksa agar Roro Oyi diserahkan agar derita cucunya disembuhkan. Wirarejo sempat menolak karena takut dengan raja yang menitipkan bocah itu ke dirinya.

Namun akhirnya ia tidak bisa menolak setelah Purbaya berjanji akan menanggung semua akibat keputusan itu. Roro Oyi diserahkan dan dibawa ke kadipaten dan akhirnya digauli Putra Mahkota.

Sunan Amangkurat yang mendapat laporan kejadian itu murka besar. Kemarahannya begitu hebat dan memerintahkan semua pihak yang terlibat "penyerahan" Roro Oyi dihukum mati tanpa pandang bulu.

Ngabei Wirorejo berikut anggota keluarganya dibuang ke Ponorogo, namun belakangan semuanya dihabisi di tengah perjalanan. Tidak ditemukan data tentang apa hukuman untuk Pangeran Purbaya dan keluarganya.
Hanya saja data sejarah mencatat Pangeran Purbaya yang sudah uzur tewas dalam pertempuran di Gegodog pada 13 Oktober 1676, saat menghadapi serangan Trunojoyo.

Korban jiwa aksi pemusnahan massal akibat skandal Roro Oyi ini ada yang menyebut 40 hingga 60 jiwa. Roro Oyi akhirnya terpaksa dibunuh oleh tangan Putra Mahkota, atas perintah paksa Sunan atau ayahandanya.

Jasadnya dikubur di Banyusumurup, disatukan dengan Pangeran Pekik dan pengikut setianya. Sesudah semuanya yang terlibat tumpas kelor, Putra Mahkota dibuang ke alas Lipura. Kadipaten dibakar habis, semua isinya dijarahrayah.

Tragedi Roro Oyi berikut semua dampaknya itu diperkirakan terjadi antara tahun 1668- 1670. Laporan tertulis Belanda yang mencatat rangkaian kejadian dramatis itu berangka tahun 1669 dan 1670.

Demikianlah, Roro Oyi, gadis malang dari Surabaya itu tewas dalam usia beranjak dewasa, menjadi korban trik intrik, pertikaian kejam ayah-anak, para paman, bibi dan para bangsawan di Pleret. (*)

Penulis: xna
Editor: ton
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved